finnews.id – Tatung di Singkawang: Tradisi Spiritual dalam Balutan Budaya Multietnis
Singkawang, sebuah kota di Provinsi Kalimantan Barat, dikenal luas sebagai Kota Seribu Kelenteng. Di balik julukan tersebut, Singkawang juga memiliki tradisi budaya yang unik dan sarat makna spiritual, yaitu Tatung. Tradisi ini tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga mencerminkan akulturasi budaya, keyakinan spiritual, dan identitas multietnis masyarakat Singkawang.
Apa Itu Tatung?
Tatung adalah sebutan bagi seseorang yang dipercaya sedang dirasuki oleh roh leluhur, dewa, atau entitas spiritual tertentu. Dalam kondisi trance, seorang Tatung diyakini memiliki kekuatan supranatural, termasuk kebal terhadap rasa sakit dan mampu melakukan atraksi ekstrem, seperti menusuk tubuh dengan benda tajam tanpa terluka parah.
Tradisi Tatung umumnya muncul dan dipertontonkan secara terbuka dalam rangkaian perayaan Cap Go Meh, yaitu hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek. Pada momen inilah ratusan Tatung dari berbagai latar belakang tampil dalam pawai besar yang menarik perhatian ribuan pengunjung.
Akar Sejarah dan Kepercayaan
Tradisi Tatung berakar dari budaya masyarakat Tionghoa, khususnya aliran kepercayaan Taoisme dan kepercayaan rakyat Tionghoa kuno. Namun, dalam perkembangannya di Singkawang, Tatung juga dipengaruhi oleh budaya lokal Dayak dan Melayu. Akulturasi ini membuat Tatung di Singkawang memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan daerah lain.
Secara historis, Tatung dipercaya berfungsi sebagai penolak bala. Pada masa lalu, ketika wabah penyakit atau bencana melanda, masyarakat memanggil Tatung untuk membersihkan wilayah dari energi negatif dan roh jahat. Hingga kini, makna simbolik tersebut masih melekat kuat dalam setiap ritual Tatung.
Ritual dan Atraksi Ekstrem
Seorang Tatung tidak serta-merta tampil begitu saja. Mereka harus melalui ritual khusus, seperti puasa, doa, dan persiapan spiritual lainnya. Saat roh diyakini telah “masuk”, Tatung akan berada dalam kondisi trance dan mulai melakukan berbagai atraksi ekstrem.