Dalam program tersebut, ia dipersiapkan untuk melakukan eksperimen mikrobiologi di luar angkasa, khususnya penelitian tentang perilaku bakteri Salmonella dalam kondisi mikrogravitasi.
Meski misi tersebut akhirnya tidak terlaksana akibat kecelakaan pesawat ulang-alik Challenger, keterlibatan Pratiwi tetap menjadi tonggak penting. Ia tercatat sebagai perempuan Indonesia pertama yang mengikuti pelatihan astronot NASA, sebuah pencapaian yang sangat langka dan prestisius pada masanya.
Kontribusi Ilmiah dan Akademik
Selain kiprahnya di bidang keantariksaan, Prof. Pratiwi Sudarmono memiliki kontribusi besar dalam dunia akademik dan riset mikrobiologi di Indonesia. Ia aktif menulis publikasi ilmiah, membimbing mahasiswa, serta terlibat dalam berbagai forum ilmiah nasional maupun internasional. Keahliannya mencakup mikrobiologi medis, penyakit infeksi, dan bioteknologi.
Sebagai guru besar, ia juga berperan penting dalam mencetak generasi ilmuwan muda Indonesia, khususnya di bidang sains dan kesehatan. Pendekatan akademiknya menekankan integritas ilmiah, ketekunan riset, dan keberanian untuk berkiprah di tingkat global.
Inspirasi bagi Perempuan Indonesia
Sosok Prof. Dr. Pratiwi Pudjilestari Sudarmono menjadi inspirasi bagi banyak perempuan Indonesia. Prestasinya membuktikan bahwa perempuan mampu bersaing dan berkontribusi dalam bidang sains, teknologi, dan riset tingkat dunia. Ia kerap dijadikan contoh figur ilmuwan perempuan yang tangguh, visioner, dan berdedikasi.
Prof. Dr. Pratiwi Pudjilestari Sudarmono bukan hanya simbol keberhasilan individu, tetapi juga representasi potensi bangsa Indonesia di bidang ilmu pengetahuan. Jejak langkahnya di dunia mikrobiologi dan program antariksa dunia menjadi warisan berharga yang patut dikenang dan diteladani oleh generasi penerus.