finnews.id – Penulis naskah film “Esok Tanpa Ibu” Gina S. Noer menjelaskan bahwa film ini mengeksplorasi hubungan rumit antara kecerdasan buatan, sosok ibu, dan lingkungan sekitar.
Film Esok Tanpa Ibu hadir sebagai karya sinema yang menyentuh sisi terdalam emosi penonton. Mengangkat tema kehilangan sosok ibu, film ini tidak sekadar bercerita tentang duka, tetapi juga tentang proses menerima, bertahan, dan menata kembali kehidupan setelah kehilangan orang yang paling berpengaruh dalam keluarga. Dengan pendekatan yang intim dan realistis, Esok Tanpa Ibu menjadi refleksi banyak keluarga yang pernah atau sedang mengalami perpisahan paling menyakitkan.
“Ketika kita bicara soal ibu, AI (artificial intellegence), dan lingkungan, ada benang merah antara ibu sebagai manusia, ibu pertiwi, dan ibu bumi,” ungkap Gina dalam konferensi pers film “Esok Tanpa Ibu” di Jakarta, Senin.
Cerita berfokus pada remaja berusia 16 tahun yang hidupnya berubah drastis setelah ibunya mengalami koma. Untuk menghadapi kesedihan, dia memanfaatkan AI ciptaan temannya yang bisa meniru suara, wajah, dan kepribadian sang ibu.
Tema utama film ini adalah kehilangan dan ketegaran. Esok Tanpa Ibu menegaskan bahwa duka bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Ia adalah proses panjang yang harus dijalani dengan kejujuran emosi. Film ini juga menyoroti pentingnya komunikasi dalam keluarga, terutama ketika salah satu pilar utama telah tiada.
Pesan moral yang kuat adalah bahwa kehadiran ibu sering kali baru benar-benar disadari nilainya ketika ia tidak lagi ada. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa—masakan rumah, nasihat sederhana, atau pelukan hangat—menjadi kenangan berharga yang tak tergantikan.
Sebagai film drama keluarga, Esok Tanpa Ibu berhasil menyampaikan kisah yang jujur, menyentuh, dan penuh makna. Ia bukan sekadar tontonan, melainkan pengalaman emosional yang mengajak penonton untuk merenung, menghargai kehadiran orang tua, dan belajar berdamai dengan kehilangan. Film ini layak diapresiasi sebagai pengingat bahwa kasih seorang ibu tidak pernah benar-benar pergi, meski raganya telah tiada.