finnews.id – Sekitar 2.000 orang, termasuk personel keamanan, tewas dalam aksi protes di Iran. Hal itu diungkapkan seorang pejabat Iran, Selasa, 13 Januari 2026, dikutip Reuters.
Ini adalah pertama kalinya pihak berwenang mengakui jumlah korban tewas yang tinggi akibat penindakan keras selama dua pekan berlangsungnya kerusuhan nasional.
Pejabat Iran tersebut mengatakan, bahwa orang-orang yang disebutnya “teroris” berada di balik kematian para demonstran dan personel keamanan.
Pejabat tersebut, yang menolak disebutkan namanya, tidak memberikan rincian siapa saja yang tewas.
Kerusuhan, yang dipicu oleh kondisi ekonomi yang buruk, telah menimbulkan tantangan internal terbesar bagi penguasa ulama Iran, setidaknya selama tiga tahun.
Aksi ini terjadi pada saat tekanan internasional meningkat setelah serangan Israel dan AS tahun lalu.
Aksi Kerusuhan Terjadi di Tengah Krisis Ekonomi
Meskipun para analis mengatakan Iran telah melewati gelombang protes yang lebih besar, kerusuhan saat ini terjadi pada saat yang sangat rentan bagi pemerintah mengingat skala masalah ekonomi.
Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan, ia percaya pemerintah Iran akan jatuh.
“Saya berasumsi bahwa kita sekarang sedang menyaksikan hari-hari dan minggu-minggu terakhir rezim ini,” katanya pada hari Selasa.
Ia menambahkan, jika rezim tersebut harus mempertahankan kekuasaan melalui kekerasan, “rezim tersebut pada dasarnya telah berakhir”.
Ia tidak menjelaskan lebih lanjut apakah perkiraan ini didasarkan pada intelijen atau penilaian lainnya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menolak kritik Merz, menuduh Berlin menerapkan standar ganda dan mengatakan bahwa ia telah “menghancurkan kredibilitasnya”.