IKNPOS.ID – President Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa negara-negara yang berbisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenai tarif 25 persen atas semua perdagangan mereka dengan Amerika Serikat, mulai berlaku segera.
Pernyataan ini muncul di platform media sosial Truth Social, di tengah gelombang protes besar di Iran dan kekhawatiran internasional terhadap stabilitas politik dan ekonomi Tehran.
Tarif ini ditujukan untuk memberi tekanan ekonomi pada Iran dan mengurangi dukungan dari negara-negara yang menjalin hubungan dagang dengan Iran.
Apa yang Dimaksud “Berbisnis dengan Iran”
Istilah “berbisnis dengan Iran” tidak dijabarkan secara rinci oleh pemerintahan AS, sehingga banyak pihak mempertanyakan batasan dari kebijakan ini. Secara umum, dalam konteks sanksi dan kebijakan perdagangan internasional, istilah ini cenderung merujuk pada:
-
Transaksi besar dan kontrak perdagangan internasional, termasuk ekspor-impor minyak, gas, dan komoditas lain yang penting bagi pendapatan negara Iran.
-
Investasi dan kerjasama ekonomi antara perusahaan asing dan entitas Iran, terutama di sektor strategis seperti energi, industri berat, dan infrastruktur.
-
Aktivitas ekonomi yang memberikan kontribusi signifikan pada neraca perdagangan Iran atau mendukung pemerintah Iran secara langsung.
Transaksi kecil atau bisnis domestik individu tidak termasuk dalam kategori ini, karena fokus kebijakan AS adalah pada aktivitas perdagangan strategis yang berdampak pada ekonomi dan geopolitik global.
Implikasi Tarif dan Ketidakjelasan
Meskipun tarif 25 persen diumumkan sebagai efektif segera, detail implementasinya belum jelas. Pemerintah AS belum menentukan secara spesifik negara atau sektor mana yang akan terdampak, maupun bagaimana kriteria “berbisnis dengan Iran” akan diterapkan secara hukum. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian di kalangan pemerintah dan perusahaan global yang memiliki hubungan dagang dengan Iran.
Para analis memperingatkan bahwa pemberlakuan tarif yang mendadak dan luas ini dapat mengganggu hubungan perdagangan internasional, terutama dengan negara-negara seperti China, Uni Emirat Arab, Turki, dan India, yang memiliki volume perdagangan tinggi dengan Iran sekaligus merupakan mitra dagang penting AS.