Catatan Dahlan Iskan

Sirrul Cholil

Bagikan
Bagikan

D’ Swan

Ada juga PTTyang lain, Push to Talk, cara berkomunikasi kalau mengunakan radio. Pencet dulu tombolnya baru ngomong

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

PTT: POS, TELEGRAM, TELEPON.. Pada era jaman Belanda ada unit pelayanan pengiriman informasi dan berita. Namanya PTT yang merupakan singkatan dari “jasa” yang diberikan, yaitu: Pos, Telegram dan Telepon. Urutan namanya juga mengisyaratkan ke-“jadulan”-nya. Yang paling jadul “pos”. Disusul “telegram”. Kemudian “telepon”. Sekarang jasa pos, sudah “hampir almarhum”. Jasa telegram, sudah “almarhum” beneran. Yang masih ada hanya tinggal telepon. Tapi telepon jaman dulu beda ama telepon jaman sekarang. Jaman dulu, yang ada hanya “telepon rumah” yang sekarang juga “hampir almarhum”. Tapi “masih ada” sedikit. Karena kebanyakan sudah beralih ke GSM atau seluler. Nah, saya, dulu mulai bekerja, sebagai operator morse, untuk jasa telegram. Yang sekarang sudah almarhum itu. Berarti saya pantas masuk museum?

Hasyim Muhammad Abdul Haq

SSB yang saya tahu adalah Sahabat Sosial Berbagi, komunitas kami di Mojokerto yang tiap hari Rabu menyiapkan sarapan gratis untuk warga sekitar di Mojokerto. Hehe.. SSB yang umum zaman bow adalah Sekolah Sepak Bola. Sedangkan SSB yang dimaksud Pak Dahlan biar si Juara Perusuh saja yang bercerita. Saya termasuk yang tidak paham.

Murid SD Internasional

Pak Guru @Agus Suryonegoro III… Di masa depan, mungkin di 2027 atau 2029, kita sudah tidak perlu lagi input prompt by text maupun by voice, tetapi cukup pakai resonansi pikiran. Pak Guru Agus cukup berbicara lewat pikiran, dan AI GPT akan langsung memberikan respon jawaban ke sirkuit otak Pak Guru Agus secara instant. Ini kelak akan merevolusi cara manusia bertindak dalam interaksi sosial. Semua tindakannya jadi terukur presisi dan lebih accurate serta lebih bermakna, karena dalam sepersekian detik otak kita secara konstan mendapatkan real-time guidance dari AI GPT yang tertanam by implant di otak kita. Setidaknya itulah gagasan futuristik logis yang sedang saya kembangkan dalam paper bahasa Inggris saya: “When Text and Voice Prompts Became Obsolete for Large-Language Models AI”.

Bagikan
Written by
Lina Setiawati

Bergabung dengan FIN CORP di 2024, Lina Setiawati membawa pengalaman jurnalistik lebih dari dua dekade sejak tahun 2000. Spesialisasinya mencakup analisis berita olahraga, dinamika politik, hukum, kriminal, serta peristiwa nasional terkini.

Artikel Terkait
James Rachman Radjimin (duduk) sewaktu masih sehat.--
Catatan Dahlan Iskan

Carter 747  

Kelihatannya rekor Radjimin akan dipecahkan oleh temannya sendiri: sama-sama konsul kehormatan negara...

dr Edwin Ongkoraharjo (kiri) bersama Soedomo Mergonoto (tengah)
Catatan Dahlan Iskan

Pilihan Baru

Sudomo kini praktis jadi juru selamat di kalangan Tionghoa. Juga juru damai...

Catatan Dahlan Iskan

Timtim Maduro

Bahwa tulisannya begitu bagus itu karena Efatha rajin menulis. Juga banyak membaca....