Catatan Dahlan Iskan

Sirrul Cholil

Bagikan
Bagikan

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

KARTU POS ADALAH NENEK MOYANGNYA “WhatsApp”… “Tiap hari ia kirim kartu pos dari Tokyo. Tiap hari,” ujar Anita. Begitu tulis pak Dahlan menceritakan cara pak Radjimin melakukan “PDKT Cinta” ke bu Anita Yaitu dengan cara, tiap hari kirim kartu pos. ### Kartu pos itu apa? Kartu pos itu nenek moyangnya WhatsApp. Versi kertas. Tanpa centang biru. Bentuknya kartu. Kaku. Ukurannya sebesar amplop. Satu sisi gambar pemandangan, misalnya gambar pemandangan kota.. Sisi satunya untuk tulisan. Hanya bisa diisi beberapa kata, karena tempatnya sempit. Kartu pos harus dikirim lewat kantor pos, dengan cara dimasukkan kotak, yang jaman dulu ada di kantor pos dan beberapa sudut kota. Harus ditempeli perangko. Dan perangkonya harus beli di kantor pos. Sebagai “ongkir”. Kartupos baru sampai ke penerima beberapa hari. Tergantung jarak dan fasilitas kantor pos dalam membawa kartu pos dan surat ke kota penerima. Kadang berminggu-minggu. Apa yang sudah tertulis di kartu pos tidak bisa diedit. Tidak bisa dihapus. Beda ama WA. Pakai kartu pos, salah tulis ya tetap salah. Tapi justru di situ romantiknya. Kalimat harus dipikir matang. Tulisan tangan harus jelas dan “di bagus-baguskan”… Dulu kartu pos bukan sekadar kabar. Itu tanda: “Aku ingat kamu.” Pak Radjimin, selama di Jepang kirim kartu pos setiap hari. Barulah bu Anita paham maksudnya.. Itu bukan iseng. Itu niat serius. Hari ini? Orang kirim WA. Ada emojinya. Ada tulisannya. Nyampainya instant.. Beda jaman..

D’ Swan

Ternyata Indonesia Timur lebih duluan mengenal tilpun dibanding kampung saya. Kampung saya baru di era 90 an itu telpon masuk ke rumah rumah. Tipe pesawatnya pun sudah pakai tombol nomor. Nah untuk keperluan yang sama orang di kampung kami biasa menggulung spul sendiri dan dengan merangkainya dengan platina dan kiprok motor dengan sumber catu menggunakan aki jadilah alat setrum ikan. Hehe..

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

@pak D Swan.. Yang lebih tua adalah telepon engkolm Jangan lupa tahun 90an masih banyak di daerah. Pesawat teleponnya tanpa “angka”. Kalau telepon harus diputar/di engkol. Fungsi diengkol ini adalah untuk mencatu batterai. Maka begitu diengkol, operator di kantor telepon kecamatan kota yang akan mengurus penyambungannya. ## Setelah pesawat engkol dipensiunkan. Di Indonesia Timur, pesawat tilpun engkol ini banyak dipakai untuk cari ikan.. Caranya, kabelnya dimasukkan di kolam/ pinggir sungai/ laut. Kemudian engkol diputar. Ikan akan mati kena setrum. Dan bergelimpangan. Kita tinggal kumpulin ikannya. ## Kasih bumbu. Bakar. Atau goreng..

Bagikan
Written by
Lina Setiawati

Bergabung dengan FIN CORP di 2024, Lina Setiawati membawa pengalaman jurnalistik lebih dari dua dekade sejak tahun 2000. Spesialisasinya mencakup analisis berita olahraga, dinamika politik, hukum, kriminal, serta peristiwa nasional terkini.

Artikel Terkait
James Rachman Radjimin (duduk) sewaktu masih sehat.--
Catatan Dahlan Iskan

Carter 747  

Kelihatannya rekor Radjimin akan dipecahkan oleh temannya sendiri: sama-sama konsul kehormatan negara...

dr Edwin Ongkoraharjo (kiri) bersama Soedomo Mergonoto (tengah)
Catatan Dahlan Iskan

Pilihan Baru

Sudomo kini praktis jadi juru selamat di kalangan Tionghoa. Juga juru damai...

Catatan Dahlan Iskan

Timtim Maduro

Bahwa tulisannya begitu bagus itu karena Efatha rajin menulis. Juga banyak membaca....