Catatan Dahlan Iskan

Sirrul Cholil

Bagikan
Bagikan

“Salawat pada Nabi,” jawab si anak.

Selesai berwudu Imam Jazuli langsung salat. Usai salat ia ingin mencari anak wanita tadi: sudah tidak terlihat. Sebagai ulama besar Imam Jazuli merasa “ditegur” oleh anak kecil: kurang membaca salawat.

Muqtafi-remaja terus membaca Dalail-nya Imam Jazuli. Ia berubah. Ayahnya tahu perubahan itu. Lalu diajak ke Makkah.

Di Makkah ia belajar ke ulama-ulama besar di sana. Anda sudah tahu: santri dari Indonesia dikenal sangat sopan dan tawaduk –sampai merasa tidak sopan untuk mengajukan pertanyaan ke ulama di sana.

Muqtafi beda. Ia sering mengajukan pertanyaan. Saking seringnya sampai ia dicela banyak santri dari Indonesia.

Sang guru ternyata cukup terbuka: justru memuji kualitas pertanyaan Muqtafi. Bahkan akhirnya sang guru menyampaikan “fatwa” di depan murid-muridnya: “kunci ilmu ada di pertanyaan”.

Empat tahun Muqtafi di Makkah.

Pulang ke Madura ia menghadapi budaya lokal: dikawinkan saat masih muda. Dijodoh-jodohkan. Untuk anak kiai biasanya dijodohkan sesama anak kiai.

Muqtafi menolak tradisi dijodohkan itu. Ia menghindar. Caranya: berkelana. Ke berbagai daerah di Indonesia. Lalu ke Jakarta.

Di Jakarta itulah Muqtafi bergaul dengan berbagai intelektual muda Islam masa kini –saat itu. Sampai ke Paramadina –di situ bertemu Anies Baswedan. Juga dengan tokoh-tokoh Islam liberal seperti Ulil Abshar. Dengan orang-orang NU tingkat pusat. Dengan tokoh-tokoh Front Pembela Islam seperti Habib Riziq. Jakarta mengubah cara berpikir keagamaannya.

Di Jakarta pula Muqtafi jatuh cinta. Ia kenal putri lima ”i” tamatan SMA Sudirman Jakarta. Si putri sudah hampir jadi artis. Sudah ikut audisi untuk jadi bintang sinetron. Sudah seleksi tahap akhir.

Sang putri juga sedang menolak dijodohkan. Sedang dalam tahap akan dipaksa. Maka hubungannyi dengan Muqtafi tidak direstui. “Kami ini praktis kawin lari,” ujar Muqtafi sambil menunjuk sang istri.

Setelah sang istri hamil barulah orang tua mereka merestui. Anak dalam kandungan itu kini baru saja diwisuda sebagai sarjana psikologi Universitas Airlangga Surabaya: Salwa Humairo. Cantik seperti ibunya. Sudah pula punya adik tiga.

Bagikan
Written by
Lina Setiawati

Bergabung dengan FIN CORP di 2024, Lina Setiawati membawa pengalaman jurnalistik lebih dari dua dekade sejak tahun 2000. Spesialisasinya mencakup analisis berita olahraga, dinamika politik, hukum, kriminal, serta peristiwa nasional terkini.

Artikel Terkait
James Rachman Radjimin (duduk) sewaktu masih sehat.--
Catatan Dahlan Iskan

Carter 747  

Seperti umumnya pengusaha muda Radjimin juga pernah ”jatuh”. Tapi segera bangkit lagi....

Ilustrasi Nadiem Makarim-Gusti-Harian Disway-
Catatan Dahlan Iskan

Melanggar Sombong

Tentu ”mentereng”-nya jabatan menteri juga jadi faktor penggoda. Kapan lagi jadi menteri....

dr Edwin Ongkoraharjo (kiri) bersama Soedomo Mergonoto (tengah)
Catatan Dahlan Iskan

Pilihan Baru

Dengan suhu uap di atas 60 derajat sejumlah sel prostat di dekat...

Catatan Dahlan Iskan

Timtim Maduro

Bahwa tulisannya begitu bagus itu karena Efatha rajin menulis. Juga banyak membaca....