Di pesantren Sirrul Cholil saya bertemu Muqtafi. Ia keturunan ulama besar Madura, Syaichona Cholil –dari jalur istri yang lain. Begitu terpencil Desa Lerpak. Ayah Muqtafi-lah yang mendirikan pondok pesantren di situ. Tingkatnya, awalnya, hanya madrasah diniyah –hanya belajar agama.
Waktu itu Muqtafi masih kecil. Nakal. Selalu membantah orang tua. Karena itu sang ayah menitipkan anak itu ke pondok pesantren di Pasuruan: Sidogiri.
Di sana Muqtafi tetap nakal. Tidak mau salat. Ia lebih suka nonton film. Dan jadi Boneknya Persebaya.
Tapi kiai di Sidogiri tidak mau menghukum atau menegur Muqtafi. Itu karena Muqtafi anak seorang kiai dan keturunan ulama besar.
Titik balik Muqtafi terjadi ketika salah satu kiai di Sidogiri, Mas Mohammad, memberinya kitab kecil ”Dalail”.
Muqtafi disuruh membacanya. Ia tertarik. Karena kecil. Ternyata menyukainya. Sangat menyukai. Mas Mohammad masih sepupu kiai utama Sidogiri, Cholil Nawawi.
Dalail adalah “buku wajib” di pesantren-pesantren NU. Isinya salawat untuk Nabi Muhammad. Penulisnya: ulama sufi terkemuka dari Maroko: Imam Jazuli. Lengkapnya: Imam Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli Al Simlali (meninggal 1465M). Nama lengkap kitab itu: Dalail Al Khairat.
Anda sudah tahu beda Dalail dan Barzanji. Dalail adalah murni berisi salawat (doa) untuk Nabi. Sedang Barzanji adalah bacaan riwayat hidup Nabi.
Dalail sangat populer di Indonesia. Isi seluruh kitab harus dibaca (umumnya dihafal) sampai selesai dalam waktu satu minggu. Itu sama dengan Anda membaca salawat terbanyak dalam hidup Anda.
Buku itu memang menomorsatukan salawat. Penulisnya sendiri menceritakan khasiat salawat yang menakjubkan. Di literatur pesantren selalu dikenang. Suatu saat Imam Jazuli mencari air untuk wudu –bersuci sebelum salat. Sumur yang ia temukan di dekat masjid lagi mengering.
Ada anak kecil, wanita, melihat ulama besar itu seperti sangat membutuhkan air untuk wudu. Maka Si anak berkomat-kamit di dekat sumur. Tiba-tiba saja sumur itu penuh dengan air.
“Apa yang Anda komat-kamitkan sehingga sumur ini berisi air?”.