Finnews.id – Harapan muncul di tengah upaya evakuasi korban longsor gunungan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) desa Binaliw, Cebu City, Filipina. Tim penyelamat melaporkan adanya deteksi tanda-tanda kehidupan di bawah tumpukan material yang runtuh sejak Kamis 8 Januari 2025 lalu. Bencana ini telah merenggut sedikitnya empat nyawa dan menyebabkan puluhan pekerja lainnya hilang.
Hingga Sabtu 10 Januari 2025 malam, otoritas setempat berhasil menyelamatkan 12 pekerja yang mengalami luka-luka. Mereka tertimbun saat tumpukan sampah raksasa tersebut longsor dan menghantam bangunan fasilitas pengelolaan limbah milik pemerintah kota.
Deteksi Lokasi dan Pengerahan Alat Berat
Wali Kota Cebu City, Nestor Archival, mengonfirmasi bahwa tim SAR menemukan sinyal kehidupan di titik-titik tertentu di area reruntuhan. Menindaklanjuti temuan ini, pemerintah segera mengerahkan alat berat berupa derek berkapasitas 50 ton untuk mempercepat proses evakuasi yang sangat berisiko.
“Kami mengonfirmasi adanya tanda-tanda kehidupan yang terdeteksi di area spesifik. Hal ini memerlukan penggalian yang sangat hati-hati,” ujar Archival dalam pernyataan resminya. Ia juga menekankan bahwa keselamatan tim penyelamat menjadi prioritas utama karena kondisi tumpukan sampah yang tidak stabil dan adanya risiko paparan gas asetilena yang mudah terbakar.
Data terbaru menunjukkan jumlah korban tewas meningkat menjadi empat orang, termasuk seorang insinyur dan seorang staf kantor wanita. Fasilitas pengelolaan limbah ini tercatat memiliki total 110 staf yang bekerja di lokasi saat kejadian berlangsung.
Kesaksian Korban Selamat
Penyebab pasti runtuhnya gunung sampah tersebut masih dalam penyelidikan, mengingat cuaca di Cebu saat kejadian tergolong cukup cerah. Salah satu korban selamat, Jaylord Antigua (31), menceritakan kengerian saat dinding sampah tiba-tiba menimpa kantor administrasi tempatnya bekerja.
Antigua berhasil keluar dari reruntuhan dengan luka memar di wajah dan lengan setelah merangkak dalam kegelapan. Ia mengaku bergegas menuju celah cahaya karena khawatir akan terjadi longsor susulan yang lebih besar. Baginya, keselamatan ini merupakan kesempatan hidup kedua yang sangat berharga.