Seperti umumnya pengusaha muda Radjimin juga pernah ”jatuh”. Tapi segera bangkit lagi. Maka jatuhlah ketika masih muda –agar Anda lebih mudah bangkit. Tapi kalau ada orang tua jatuh lalu bisa bangkit itu memang istimewa.
Dari Karangkates, Radjimin jadi pemasok untuk bendungan Gajah Mungkur. Lebih jauh lagi. Di Wonogiri, pojokan tenggara Jateng.
Lalu ia bisnis telekomunikasi. Radjimin memasok peralatan telekomunikasi di berbagai kabupaten dan kecamatan. Belum ada internet. Belum ada HP. Alat komunikasi antar kabupaten dan kecamatan saat itu disebut SSB –mungkin si juara perusuh Disway masih tahu apa itu SSB.
Usaha Radjimin berlanjut ke properti. Ia bebaskan satu lokasi: dibangunlah ruko. Di beberapa lokasi. Termasuk membebaskan rumah kuno di pojokan Ambengan untuk dijadikan restoran Venesia yang kemudian terkenal.
Setelah menangani bisnis di berbagai daerah, Radjimin merasa waktunya habis di jalan raya. Tabungan sudah setinggi tugu Monas. Ia pun ingin memasuki bisnis yang tidak terlalu makan tenaga.
Maka ia bebaskan 200 rumah kampung di belakang Jalan Embong Malang. Jadilah hotel bintang lima plus: J.W. Marriott. Sampai sekarang masih jadi hotel terbaik.
“Sudah maisong Pak Radjimin?” tanya Ny Sindunata Sambhudi kepada saya. Dia teman saya berolahraga di halaman Harian Disway, Surabaya.
“Sudah. Kemarin,” jawab saya.
“Lho saya juga kemarin. Kok tidak ketemu ya?”
Lokasi rumah duka itu di Adi Jasa. Kalau yang meninggal orang biasa cukup menyewa satu ruangan di situ. Untuk Radjimin yang disewa tujuh ruangan. Luas. Penuh hiasan bunga. Satu pelayat belum tentu bertemu pelayat lainnya.
Radjimin lima hari disemayamkan di situ. Yang maisong tidak henti-hentinya. Siang malam.
“Saya bisikkan sesuatu ke peti Pak Radjimin kemarin,” ujar Ny Sindunata.
“Anda bisikkan apa?”
“Kok pergi duluan, meninggalkan Pak Sindu,” ujarnyi.
Sindunata juga vegetatif. Juga sudah delapan tahun. Hanya berbeda dua bulan dengan Radjimin. Sindu kini berusia 72 tahun. Radjimin seumuran saya: 75 tahun –hanya beda lima bulan.