Finnews.id – FIFA secara resmi mengumumkan TikTok sebagai “platform pilihan” pertama untuk konten video media sosial pada ajang Piala Dunia pria mendatang. Langkah strategis ini bertujuan untuk mendekatkan penggemar sepak bola dengan turnamen terbesar di dunia melalui konten digital yang lebih interaktif.
Kerja sama ini mencakup turnamen edisi 2026 yang akan berlangsung di 16 kota di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Sepanjang periode 11 Juni hingga 19 Juli, para kreator konten akan mendapatkan akses khusus di stadion untuk memberikan sudut pandang unik bagi penonton global.
Akses Siaran Langsung dan Arsip FIFA Dalam pernyataan resminya pada Kamis 8 Januari 2026, FIFA menjelaskan bahwa pemegang hak siar dapat melakukan livestream potongan pertandingan dari total 104 laga yang dijadwalkan.
Konten tersebut akan tersedia pada hub khusus di aplikasi TikTok. Mengingat TikTok memiliki lebih dari 170 juta pengguna di Amerika Serikat saja, potensi jangkauan audiens ini sangat masif.
Selain siaran langsung, FIFA juga memberikan kesempatan kepada sekelompok kreator untuk menggunakan serta mengolah kembali rekaman arsip resmi FIFA.
Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafström, menjanjikan bahwa kolaborasi ini akan membawa penggemar “ke belakang layar dan lebih dekat dengan aksi lapangan daripada sebelumnya.”
Dampak Bisnis dan Keterlibatan Penggemar James Stafford, Kepala Konten Global TikTok, memaparkan bahwa fitur TikTok GamePlan mampu mengubah antusiasme penggemar menjadi hasil bisnis yang terukur bagi mitra olahraga.
Data menunjukkan bahwa penggemar 42% lebih cenderung menonton pertandingan langsung secara penuh setelah melihat konten olahraga di TikTok.
Untuk meningkatkan partisipasi, hub khusus di aplikasi tersebut juga akan menyediakan berbagai fitur menarik seperti stiker kustom, filter bertema sepak bola, dan fitur gamifikasi bagi para pendukung tim nasional.
Stabilitas TikTok di Pasar Amerika Serikat Kemitraan besar ini terjadi di tengah dinamika bisnis TikTok di Amerika Serikat. Perusahaan induknya yang berbasis di China, ByteDance, baru saja menyepakati pembentukan perusahaan patungan (joint venture) dengan investor AS seperti Oracle, Silver Lake, dan MGX pada Desember lalu.