finnews.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan gelombang serangan kedua ke Venezuela. Langkah ini diambil setelah adanya kerja sama dari negara Amerika Selatan tersebut.
Trump mengatakan, Venezuela membebaskan sejumlah besar tahanan politik sebagai tanda “upaya perdamaian”, menyusul operasi militer AS yang dramatis pekan lalu yang mengakibatkan penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
“Ini adalah isyarat yang sangat penting dan cerdas. AS dan Venezuela bekerja sama dengan baik, terutama dalam hal membangun kembali infrastruktur minyak dan gas mereka dalam bentuk yang jauh lebih besar, lebih baik, dan lebih modern,” kata Trump di Truth Social, Jumat, 9 Januari 2026.
“Karena kerja sama ini, saya telah membatalkan gelombang serangan kedua yang sebelumnya diperkirakan akan terjadi, yang tampaknya tidak akan diperlukan, namun, semua kapal akan tetap berada di tempatnya untuk tujuan keselamatan dan keamanan,” tambahnya.
Komentar Trump muncul beberapa jam setelah ia mengindikasikan dalam sebuah wawancara di program “Hannity” Fox News bahwa pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, akan datang ke Washington minggu depan.
Namun, presiden Republikan itu mengatakan kepada New York Times pada hari Rabu, bahwa AS “berhubungan sangat baik” dengan pemerintah Venezuela, yang dipimpin oleh penjabat presiden sementara Delcy Rodriguez.
Selama wawancara Fox, Trump juga mengatakan bahwa ia akan bertemu dengan para eksekutif perusahaan minyak di Gedung Putih pada hari Jumat dan bahwa perusahaan-perusahaan minyak akan menghabiskan setidaknya US$100 miliar di Venezuela, yang ia ulangi dalam unggahan Truth Social-nya.