finnews.id – Pemerintahan Donald Trump menempatkan reaktivasi industri minyak Venezuela sebagai fokus utama strategi Amerika Serikat terhadap negara tersebut setelah operasi penangkapan mantan Presiden Nicolas Maduro. AS mendorong kesepakatan dengan perusahaan-perusahaan Amerika untuk melanjutkan ekspor minyak mentah ke AS, sekaligus berupaya menjaga stabilitas internal Venezuela dan menekan risiko politik serta keamanan yang selama ini menghambat investasi asing.
Tantangan Politik dan Investasi
Pemulihan sektor minyak Venezuela menghadapi hambatan besar. Ekonom Antero Alvarado menegaskan bahwa peluang jangka panjang sangat besar karena cadangan minyak yang melimpah, tetapi prospek jangka pendek didominasi ketidakpastian politik. Persepsi risiko menjadi kendala utama, karena pemerintah Venezuela belum sepenuhnya diakui dan kerangka institusionalnya rapuh. Akibatnya, perusahaan menengah dan regional diperkirakan akan mengambil peran awal sebelum pemain besar masuk.
Kerusakan Infrastruktur Minyak
Produksi Venezuela saat ini hanya sekitar 1% dari pasokan global, jauh dari puncak 3,5 juta barel per hari pada 1990-an. Infrastruktur pipa, kilang, dan terminal rusak parah, sementara mayoritas minyaknya berat dan ekstra berat sehingga memerlukan fasilitas khusus, energi tinggi, dan logistik kompleks untuk diproses.
Skala Investasi yang Diperlukan
Untuk meningkatkan produksi menjadi 2 juta barel per hari, estimasi investasi mencapai 110 miliar dolar dalam tujuh hingga sepuluh tahun. Kembali ke kapasitas puncak membutuhkan sekitar 200 miliar dolar dan rekonstruksi penuh seluruh rantai minyak, mulai dari eksplorasi hingga pengilangan dan distribusi.
Stabilitas Politik sebagai Kunci
Stabilitas pemerintahan Venezuela menjadi faktor penentu keberhasilan. Setelah Maduro ditangkap, Delcy Rodriguez memimpin pemerintah sementara saudaranya Jorge mengendalikan Majelis Nasional. Ketegangan internal serta keberadaan kelompok bersenjata sipil menciptakan risiko tinggi yang menghambat investasi dan aktivitas ekonomi.