finnews.id – West Ham kian terancam turun kasta setelah rangkaian hasil buruk yang terus berlanjut di Premier League musim ini. Kekalahan terbaru dari sesama penghuni papan bawah semakin menegaskan posisi rapuh klub asal London tersebut, yang kini terperosok di zona degradasi dengan jarak poin yang makin melebar dari batas aman. Situasi ini menempatkan West Ham dalam tekanan besar, baik secara teknis maupun psikologis, di tengah musim yang sebelumnya penuh harapan.
Klub yang masih merasakan euforia gelar Eropa pada 2023 itu kini menghadapi kenyataan pahit. Dukungan suporter mulai berubah menjadi kecemasan, sementara setiap pertandingan terasa seperti penentuan nasib. Statistik dan performa lapangan menunjukkan masalah struktural yang tidak mudah teratasi dalam waktu singkat.
Rentetan Hasil Buruk yang Menggerus Harapan
Perjalanan West Ham dalam beberapa pekan terakhir mencerminkan krisis konsistensi yang serius. Sepuluh pertandingan liga tanpa kemenangan menjadi catatan kelam yang jarang terjadi dalam sejarah modern klub. Dalam periode tersebut, tim hanya mampu mengumpulkan hasil imbang dan kekalahan, termasuk beberapa laga yang sebenarnya sempat berada dalam kendali.
Kekalahan dari Nottingham Forest menjadi contoh paling jelas. West Ham sempat unggul, tetapi kembali gagal menjaga keunggulan hingga peluit akhir. Pola ini berulang dalam sejumlah pertandingan lain, memperlihatkan lemahnya manajemen pertandingan dan konsentrasi pada momen krusial. Data liga menunjukkan West Ham termasuk tim dengan jumlah poin terbanyak yang hilang setelah unggul lebih dulu, sebuah indikator kuat adanya masalah mental dan organisasi permainan.
Situasi ini membuat West Ham kian terancam turun kasta, karena setiap peluang emas justru berakhir dengan kekecewaan. Jarak tujuh poin dari zona aman bukan sekadar angka, melainkan refleksi dari momentum yang terus menghilang.
Tekanan Meningkat pada Nuno Espirito Santo
Sorotan tajam tertuju pada Nuno Espirito Santo, yang mengambil alih kursi pelatih di tengah musim dengan harapan membawa stabilitas. Namun, hasil di lapangan belum mencerminkan perubahan signifikan. Dari 16 pertandingan liga di bawah asuhannya, West Ham hanya meraih dua kemenangan, sebuah rekor awal terburuk bagi pelatih klub tersebut di era Premier League.
Nuno tetap menunjukkan sikap optimistis di depan publik. Ia menekankan pentingnya ketahanan mental, kerja keras, dan persatuan tim. Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan psikologi olahraga modern yang menilai resiliensi sebagai faktor kunci dalam situasi tekanan tinggi. Penelitian dalam Journal of Sports Sciences menyebutkan bahwa tim dengan kohesi tinggi cenderung lebih mampu keluar dari periode krisis performa.
Meski demikian, tekanan eksternal terus meningkat. Mantan pemain dan analis sepak bola mempertanyakan arah permainan tim serta efektivitas pendekatan taktik yang diterapkan. Dalam kompetisi seketat Premier League, waktu sering kali menjadi kemewahan yang tidak dimiliki klub di zona degradasi.