finnews.id – Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai rencana pengalihan hingga puluhan juta barel minyak Venezuela ke Amerika Serikat muncul di tengah perubahan besar dalam lanskap politik negara Amerika Latin tersebut. Setelah operasi militer mengejutkan yang berujung pada tersingkirnya Nicolás Maduro dari kekuasaan, Washington mulai menyampaikan arah kebijakan baru terkait sumber daya strategis Venezuela, khususnya sektor energi.
Trump menyatakan bahwa otoritas sementara Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 juta barel minyak ke Amerika Serikat. Minyak tersebut, menurut pernyataannya, akan dijual pada harga pasar, sementara kendali atas pendapatan berada di tangan pemerintah AS untuk digunakan demi kepentingan kedua negara. Pernyataan ini memicu perdebatan luas, baik di kalangan analis energi, pakar hukum internasional, maupun pengamat geopolitik.
Kutipan Trump yang banyak disorot berbunyi, “Having a Venezuela that’s an oil producer is good for the United States because it keeps the price of oil down.” Pernyataan ini menegaskan bahwa isu minyak Venezuela tidak hanya dipandang sebagai persoalan bilateral, tetapi juga sebagai instrumen stabilisasi pasar energi global menurut sudut pandang Gedung Putih.
Cadangan Minyak Besar dan Tantangan Produksi
Venezuela tercatat memiliki sekitar 303 miliar barel cadangan minyak terbukti, menjadikannya negara dengan cadangan terbesar di dunia. Namun, besarnya cadangan tersebut tidak sejalan dengan kemampuan produksi aktual. Produksi minyak Venezuela mengalami penurunan tajam sejak awal 2000-an akibat kombinasi salah kelola, sanksi internasional, dan degradasi infrastruktur.
Analis energi yang dikutip BBC menilai bahwa memulihkan kapasitas produksi Venezuela bukan perkara cepat. Restorasi sektor minyak negara itu diperkirakan membutuhkan investasi hingga puluhan miliar dolar dan waktu yang dapat mencapai satu dekade. Fakta ini memperlihatkan jurang antara potensi teoretis cadangan minyak dan realitas teknis di lapangan.
Secara ilmiah dan teknis, minyak Venezuela tergolong berat dan berkadar sulfur tinggi. Jenis minyak ini membutuhkan teknologi pemurnian khusus dan biaya pengolahan yang lebih mahal dibandingkan minyak ringan. Tidak semua kilang di Amerika Serikat mampu memproses minyak jenis tersebut secara efisien, sehingga tantangan logistik dan teknologi menjadi faktor penting dalam rencana apa pun terkait pengalihan pasokan.