finnews.id – Apakah Anda masih ingat dengan sosok publik figur Manohara yang sempat dikagumi di Indonesia lantaran keanggunannya.
Ia bahkan pernah dikabarkan menjalin asmara dengan Zack Lee.
Manohara Odelia Pinot mendadak viral di media sosial karena menyampaikan fakta mengejutkan mengenai masa lalunya. Ingin tahu lebih lanjut?
Manohara Odelia Pinot menegaskan, pernikahannya dengan Pangeran Kelantan, Tengku Fakhry pada 2008 bukan pernikahan yang sah.
Dia pun menegaskan, pernikahan itu terjadi saat dirinya masih di bawah umur.
“Apa yang terjadi selama masa remaja saya, bukanlah hubungan romantis, bukan hubungan atas persetujuan bersama, dan bukan pernikahan yang sah,” tegasnya, dikutip dari Instagram, Rabu (7/1/2026).
“Tidak pernah ada hubungan yang saya inginkan, setujui, atau jalani secara sukarela,” tambahnya.
Manohara juga bercerita bahwa pada saat itu, dia masih di bawah umur dan berada dalam situasi paksaan dan kurangnya kebebasan.
“Artinya, saya tidak memiliki pilihan nyata atau kemampuan untuk memberikan persetujuan,” ucapnya.
Atas kejadian itu, Manohara meminta kepada semua pihak untuk tidak membawa embel-embel ‘mantan istri’ dalam setiap pemberitaan yang menyangkut namanya. Menurut dirinya, label tersebut kurang tepat untuknya.
“Selama bertahun-tahun, saya berulang kali disebut dalam artikel dan judul berita sebagai, ‘Mantan istri…’. Saya menulis surat ini untuk dengan hormat mengklarifikasi bahwa deskripsi itu tidak akurat dan menyesatkan,” kata Manohara.
Dengan kata lain, penggunaan istilah ‘mantan istri’ menyiratkan hubungan dan pernikahan yang sah, sukarela, dan dewasa. Pada kenyataannya, bagi dia, hal itu adalah salah.
Pada kesempatan itu, Manohara juga meminta kepada beberapa pihak, termasuk media, untuk berhenti menggunakan label ‘mantan istri’ untuk dirinya.
“Saya meminta kepada media Indonesia, editor, penulis, maupun platform digital (termasuk Google dan Wikipedia) untuk berhenti menggunakan label ini ketika merujuk kepada saya,” ungkapnya.
“Terus menerbitkan artikel dengan penggambaran yang salah ini bukan hanya tidak akurat, tapi juga merupakan jurnalisme yang tidak etis. Permintaan ini bukan tentang mengungkit masa lalu, ini tentang keakuratan, etika, dan penggunaan bahasa serta konteks yang bertanggung jawab. Penggunaan bahasa yang hati-hati itu penting, karena kata-kata memiliki konsekuensi,” tambah Manohara.