finnews.id – Keputusan Manchester United untuk mengakhiri kerja sama dengan Ruben Amorim setelah 14 bulan menangani Setan Merah menandai babak baru dalam perjalanan klub yang masih berupaya menemukan stabilitas pasca era kejayaan. Pemecatan ini diumumkan pada awal Januari 2026, menyusul rangkaian hasil yang dinilai tidak memenuhi ekspektasi manajemen maupun standar historis klub. Dalam konteks sepak bola modern yang semakin menuntut hasil instan, keputusan tersebut mencerminkan tekanan struktural dan kinerja yang saling berkelindan di level elite Eropa.
Latar Belakang Penunjukan Ruben Amorim
Ruben Amorim tiba di Old Trafford pada November 2024 dengan reputasi sebagai salah satu pelatih muda paling progresif di Eropa. Namanya mencuat berkat keberhasilan di Sporting CP, termasuk gelar liga Portugal dan pendekatan taktik modern berbasis organisasi permainan serta intensitas tinggi. Penunjukan Amorim kala itu dipandang sebagai investasi jangka menengah hingga panjang, sejalan dengan visi Manchester United untuk membangun identitas permainan baru yang lebih konsisten.
Namun, sejak awal masa jabatannya, tantangan besar sudah menghadang. Liga Inggris dikenal memiliki intensitas, tekanan media, serta ekspektasi publik yang jauh lebih tinggi dibanding banyak liga lain di Eropa. Dalam sebuah pernyataan terdahulu, Amorim pernah menyebut bahwa melatih klub besar berarti “setiap pekan terasa seperti final”, sebuah kutipan yang mencerminkan realitas keras yang akhirnya ia hadapi sendiri.
Performa Tim selama 14 Bulan
Selama 14 bulan menukangi Setan Merah, performa Manchester United menunjukkan fluktuasi tajam. Pada musim pertamanya, klub finis di papan bawah klasemen, sebuah capaian yang oleh banyak analis disebut sebagai salah satu musim terburuk dalam sejarah modern klub. Konsistensi menjadi masalah utama, dengan United kerap kehilangan poin melawan tim yang secara kualitas berada di bawah mereka.
Musim berikutnya pun tidak memberikan perbaikan signifikan. Hingga pemecatan Amorim, United masih tertahan di luar zona kompetisi Eropa. Statistik menunjukkan rasio kemenangan yang rendah serta jumlah kebobolan yang relatif tinggi untuk ukuran klub dengan sumber daya finansial besar. Data performa ini menjadi dasar utama evaluasi manajemen, yang menilai bahwa tren negatif sulit dibalikkan dalam waktu dekat.