Ia pun menyerukan gereja-gereja di seluruh dunia untuk bersikap tegas: menolak pembatasan Israel, mendesak dibukanya penyeberangan, dan memastikan bantuan kemanusiaan dapat masuk tanpa hambatan.
Peringatan serupa juga disampaikan kelompok-kelompok Palestina dan internasional yang menilai pencabutan izin tersebut akan semakin memperparah penderitaan warga sipil Gaza, yang terus menjadi sasaran serangan sejak Oktober 2023.
Perang yang berlangsung hingga kini telah menewaskan lebih dari 71.400 orang dan melukai lebih dari 171.000 lainnya, serta meninggalkan kehancuran luas di wilayah padat penduduk tersebut.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan biaya rekonstruksi Gaza mencapai sekitar 70 miliar dolar AS atau setara Rp1.088,5 triliun.
Di tengah krisis tersebut, Israel masih membatasi masuknya bantuan pangan, obat-obatan, perlengkapan medis, dan material tempat tinggal. Sebanyak 2,4 juta penduduk Gaza telah hidup di bawah pengepungan selama lebih dari 18 tahun.
Pembatasan bantuan ini juga dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata yang diberlakukan sejak Oktober lalu, sekaligus memperdalam krisis kemanusiaan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.