Bagi China, Venezuela adalah sumber energi alternatif di tengah kompetisi global perebutan bahan baku dan sumber daya alam. Meski kontribusinya baru sekitar 4 persen dari total impor minyak China, volume minyak Venezuela terus meningkat. Reuters mengutip analis pasar yang memperkirakan impor China dari Venezuela bisa melampaui 600.000 barrel per hari, hampir seluruh produksi harian Venezuela.
Jenis minyak Merey yang terkena sanksi Barat justru menguntungkan Beijing. Sebagai imbalannya, aliran dana China mengucur deras ke Caracas, terutama lewat kredit. Sejumlah estimasi menyebut utang Venezuela ke China mencapai 60–70 miliar dollar AS (Rp 1 kuadriliun-Rp 1,16 kuadriliun). China juga menancapkan pengaruh lewat teknologi dan persenjataan. Infrastruktur telekomunikasi Venezuela banyak bertumpu pada komponen asal China. Pada September lalu, Maduro bahkan memamerkan ponsel Huawei yang disebutnya hadiah langsung dari Presiden Xi Jinping dan, menurut klaimnya, mustahil diretas intelijen AS.
Keselarasan ideologis turut memperkuat hubungan ini. Sosialisme nasionalis ala Caracas relatif sejalan dengan doktrin Partai Komunis China.
Dengan mengecam penyitaan tanker Venezuela, China memosisikan diri sebagai sekutu. Pada saat yang sama, keterlibatan China di Venezuela berpotensi menyita kekuatan AS di “halaman belakangnya”, ketika Washington ingin memusatkan perhatian ke Indo-Pasifik dan Taiwan.
Rusia juga melihat Amerika Latin sebagai panggung untuk menantang dominasi AS. Hubungan Moskwa–Caracas menguat sejak era Hugo Chavez.
Rusia menjadi pemasok senjata utama dan memperoleh dukungan diplomatik Venezuela dalam konflik Georgia 2009. Ketika kekuasaan Maduro terancam pada 2019, saat Juan Guaido mengeklaim diri sebagai presiden interim dengan dukungan AS, Rusia turun tangan cepat. Dua pesawat militer dikirim ke Caracas.
“Untuk pertama kalinya sejak Krisis Kuba, AS terpaksa bernegosiasi langsung dengan Rusia soal Amerika Latin,” kata Vladimir Rouvinski dari Universitas Icesi, Kolombia. Namun dalam konfrontasi terbaru, Moskwa tampak lebih berhati-hati. Dukungan sejauh ini terbatas pada pernyataan politik.
Apa ambisi Amerika Serikat?
Trump, lewat laman media sosial Truth Social, menuntut Venezuela mengembalikan “minyak, tanah, dan aset lain” yang disebutnya pernah “dicuri”. Pernyataan ini diduga merujuk pada nasionalisasi industri minyak Venezuela pada 2007, yang tak sepenuhnya mengganti rugi perusahaan AS. Saat ini, hanya Chevron yang masih beroperasi lewat pengaturan khusus.