finnews.id – Serangan AS ke Venezuela dan juga penangkapan Presidennya, Nicolas Maduro, memang sudah menjadi misi agresi AS ke negara Amerika Latin tersebut.
Kapal-kapal perang AS tak lagi hanya membidik perahu yang dituding membawa narkotika, tetapi sejak Desember 2025 juga menghentikan tanker minyak milik Venezuela. Meski peran rezim Nicolas Maduro dalam perdagangan narkoba masih diperdebatkan analis, satu hal nyaris tak terbantahkan: Minyak adalah urat nadi ekonomi negeri.
Venezuela menyimpan cadangan minyak terbesar di dunia, lebih dari 300 miliar barrel, meski infrastrukturnya remuk karena salah urus bertahun-tahun. Dalam kalkulasi strategis Presiden AS Donald Trump, yang dikenal ramah industri minyak, kekayaan ini hampir pasti menjadi faktor penting.
Bagaimanapun, minyak pula yang selama ini melumasi gerak diplomasi Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Meski demikian, konflik Venezuela tak bisa dijelaskan oleh minyak semata, menurut analis. Beragam kepentingan global bertaut, termasuk manuver dua kekuatan besar lain: China dan Rusia.
China dan Rusia kerap dikaitkan dengan kepentingan strategis di Venezuela, terutama karena faktor energi dan posisi geopolitik negara tersebut. Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, menjadikannya aset penting dalam peta keamanan energi global. Selama bertahun-tahun, Beijing dan Moskow membangun hubungan ekonomi dan politik dengan Caracas melalui kerja sama energi, investasi, serta dukungan diplomatik di forum internasional.
Kepentingan China dan Rusia di Venezuela dinilai tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan upaya menyeimbangkan pengaruh Amerika Serikat di kawasan Amerika Latin. Hubungan dekat dengan Venezuela memberi kedua negara pijakan strategis di wilayah yang selama ini dianggap berada dalam lingkup pengaruh Washington.
Karena itu, setiap perubahan besar dalam kepemimpinan atau arah politik Venezuela berpotensi berdampak langsung pada kepentingan jangka panjang mereka.
Dalam konteks intervensi Amerika Serikat dan penangkapan Presiden Nicolás Maduro, reaksi keras China dan Rusia dipandang bukan semata membela sosok tertentu, melainkan menjaga posisi strategis agar tidak sepenuhnya terpinggirkan. Venezuela kini menjadi arena persaingan pengaruh kekuatan besar, di mana minyak, letak geografis, dan stabilitas kawasan saling berkaitan. Situasi ini mencerminkan dinamika geopolitik global yang kompleks, lebih berupa pertarungan kepentingan melalui jalur diplomasi dan ekonomi daripada tuduhan keterlibatan rahasia.
Bagi China, Venezuela adalah sumber energi alternatif di tengah kompetisi global perebutan bahan baku dan sumber daya alam. Meski kontribusinya baru sekitar 4 persen dari total impor minyak China, volume minyak Venezuela terus meningkat. Reuters mengutip analis pasar yang memperkirakan impor China dari Venezuela bisa melampaui 600.000 barrel per hari, hampir seluruh produksi harian Venezuela.
Jenis minyak Merey yang terkena sanksi Barat justru menguntungkan Beijing. Sebagai imbalannya, aliran dana China mengucur deras ke Caracas, terutama lewat kredit. Sejumlah estimasi menyebut utang Venezuela ke China mencapai 60–70 miliar dollar AS (Rp 1 kuadriliun-Rp 1,16 kuadriliun). China juga menancapkan pengaruh lewat teknologi dan persenjataan. Infrastruktur telekomunikasi Venezuela banyak bertumpu pada komponen asal China. Pada September lalu, Maduro bahkan memamerkan ponsel Huawei yang disebutnya hadiah langsung dari Presiden Xi Jinping dan, menurut klaimnya, mustahil diretas intelijen AS.
Keselarasan ideologis turut memperkuat hubungan ini. Sosialisme nasionalis ala Caracas relatif sejalan dengan doktrin Partai Komunis China.
Dengan mengecam penyitaan tanker Venezuela, China memosisikan diri sebagai sekutu. Pada saat yang sama, keterlibatan China di Venezuela berpotensi menyita kekuatan AS di “halaman belakangnya”, ketika Washington ingin memusatkan perhatian ke Indo-Pasifik dan Taiwan.
Rusia juga melihat Amerika Latin sebagai panggung untuk menantang dominasi AS. Hubungan Moskwa–Caracas menguat sejak era Hugo Chavez.
Rusia menjadi pemasok senjata utama dan memperoleh dukungan diplomatik Venezuela dalam konflik Georgia 2009. Ketika kekuasaan Maduro terancam pada 2019, saat Juan Guaido mengeklaim diri sebagai presiden interim dengan dukungan AS, Rusia turun tangan cepat. Dua pesawat militer dikirim ke Caracas.
“Untuk pertama kalinya sejak Krisis Kuba, AS terpaksa bernegosiasi langsung dengan Rusia soal Amerika Latin,” kata Vladimir Rouvinski dari Universitas Icesi, Kolombia. Namun dalam konfrontasi terbaru, Moskwa tampak lebih berhati-hati. Dukungan sejauh ini terbatas pada pernyataan politik.
Apa ambisi Amerika Serikat?
Trump, lewat laman media sosial Truth Social, menuntut Venezuela mengembalikan “minyak, tanah, dan aset lain” yang disebutnya pernah “dicuri”. Pernyataan ini diduga merujuk pada nasionalisasi industri minyak Venezuela pada 2007, yang tak sepenuhnya mengganti rugi perusahaan AS. Saat ini, hanya Chevron yang masih beroperasi lewat pengaturan khusus.
Kepentingan AS justru lebih besar di Guyana, tetangga Venezuela, yang berseteru dengan Venezuela seputar wilayah Essequibo yang kaya minyak dan juga diklaim Caracas.
Dari sudut pandang Washington, ada lebih dari satu alasan ekonomi untuk mendorong kejatuhan Maduro. Pada masa jabatan pertamanya, Trump memperketat sanksi yang diwarisi dari Barack Obama dan mencoba menggoyang Caracas. Upaya itu gagal. Kini, Trump tampak lebih bersikeras. Venezuela kembali menjadi simpul konflik, tempat kepentingan energi, ideologi, dan geopolitik global saling berkelindan.