finnews.id – Masyarakat Jawa memiliki beragam cara memberikan maupun mengganti nama.
Sering kali berdasarkan waktu lahir (misal: Ratri/malam, Rina/siang, nama hari/pasaran), urutan kelahiran (Pembarep, Panggulu, Wuragil), atau sifat baik (Asih, Jatmika), dengan makna filosofis yang mendalam sebagai doa, namun kini banyak juga yang mengadopsi nama Arab atau kombinasi karena pengaruh globalisasi dan keagamaan.
Tradisi Pemberian Nama
- Berdasarkan Waktu Lahir: Menggunakan nama hari (Anggara/Selasa), waktu (Ratri/malam, Rina/siang), bulan (Suro), atau siklus kalender Jawa (Alip, Gumbreg).
- Berdasarkan Urutan Kelahiran: Anak pertama (Pembarep, Eka), kedua (Panggulu, Dwi), terakhir (Wuragil/Ragil).
- Berdasarkan Sifat/Doa: Nama yang mengandung harapan baik, seperti Sabar, Asih, Nastiti (cermat), Kukuh (kuat).
- Berdasarkan Tokoh Teladan: Mengambil nama dari tokoh pewayangan (Arjuna, Semar) atau tokoh agama.
- Berdasarkan Kondisi Lahir: Nama yang mencerminkan keadaan saat lahir, seperti Narimo (menerima) atau Beja (beruntung).
Evolusi Nama
- Zaman Dulu: Seringkali nama tunggal, sederhana, dari bahasa Jawa atau Sansekerta (contoh: Soekarno, Soeharto).
- Zaman Sekarang: Cenderung lebih panjang, unik, sering mengadopsi nama Arab (akibat Islamisasi) atau kombinasi Jawa-Arab, serta nama-nama modern/kebarat-baratan.
Contoh Variasi Nama Populer/Kuno
- Laki-laki: Eko, Dwi, Tri, Catur, Panca (urutan), Joko, Santoso, Mulyono, Poniman, Ponijan.
- Perempuan: Ratri, Rina, Sri, Astuti, Siti, Sugianti, Suwarni, Ponirah, Ponira
Ciri Khas Penamaan Jawa
- Sakral dan Penuh Doa: Nama dianggap doa dan harus bermakna baik; seringkali melibatkan ritual.
- Sederhana & Panjang: Dulu sering satu kata (misal: Joko), kini banyak nama panjang dan unik hasil gabungan unsur berbagai bahasa (Jawa-Arab-global).
- Unik: Muncul keinginan memiliki nama yang tidak sama dengan orang lain, seringkali dengan kombinasi kata yang tidak biasa.
Makna Nama dalam Budaya Jawa
Nama dianggap sakral, mengandung doa, dan bisa mencerminkan status sosial atau harapan orang tua.
Ada tradisi mengganti nama (nama tua) saat menikah atau ketika mengalami kesialan.
Mengganti Nama
Tradisi mengganti nama dalam budaya Jawa (sering disebut sebagai ganti jeneng) didasari oleh keyakinan bahwa nama adalah doa sekaligus beban spiritual bagi pemiliknya.
Beberapa poin penting dalam Mengganti Nama menurut Tradisi Jawa
Alasan Penggantian Nama
- Kabotan Jeneng (Keberatan Nama): Kepercayaan bahwa sebuah nama terlalu “berat” atau mengandung harapan terlalu tinggi sehingga pemiliknya tidak sanggup memikulnya secara spiritual.
- Kesehatan & Nasib: Sering dilakukan jika seseorang (terutama anak-anak) sering sakit-sakitan, mengalami kesialan bertubi-tubi, atau sulit dalam rezeki.
- Transisi Hidup: Terdapat tradisi Ganti Jeneng Tuwo, yaitu mengganti atau menambah nama saat seseorang akan menikah atau mencapai status sosial tertentu.
Ritual dan Simbolisme
- Bubur Merah Putih (Jenang Sengkolo): Sajian utama dalam ritual ganti nama. Bubur merah melambangkan ibu dan bubur putih melambangkan ayah. Hidangan ini berfungsi sebagai simbol pembersihan diri dan penolak bala (sengkolo) agar pemilik nama baru terhindar dari kesialan.
- Ruwatan: Dalam beberapa kasus, penggantian nama dilakukan melalui prosesi ruwatan (upacara penyucian) untuk membuang energi negatif.
- Tumpengan: Sering kali disertai dengan syukuran sederhana sebagai bentuk doa kepada Tuhan agar nama yang baru membawa berkah.
Prosedur Modern
Secara hukum di Indonesia pada 2026, penggantian nama tetap memerlukan legalitas formal. Setelah melakukan tradisi adat, seseorang harus:
- Mengajukan permohonan ke Pengadilan Negeri setempat dengan alasan yang jelas.
- Melaporkan hasil penetapan pengadilan ke kantor Disdukcapil untuk memperbarui Akta Kelahiran dan KTP.