finnews.id – PSSI telah menunjuk mantan pelatih Timnas Kanada, John Herdman sebagai arsitek Timnas Indonesia. Pelatih berusia 50 tahun itu diyakini mampu membawa skuad Garuda ke prestasi terbaik.
Herdman memiliki reputasi bukan hanya sebagai perancang taktik, tetapi sebagai pembangun kultur atau budaya tim, khususnya melalui pendekatan ‘brotherhood’ alias persaudaraan di dalam ruang ganti.
Mantan pemain timnas Kanada, Jason deVos, membongkar rahasia kesuksesan Herdman ketika Kanada mengakhiri penantian 36 tahun absen setelah lolos ke Piala Dunia 2022 Qatar.
DeVos, yang menjadi director of development di timnas Kanada di periode Herdman menjadi pelatih kepala, menyebut kesuksesan yang didapatkan pelatih asal Inggris itu karena melakukan pendekatan yang berakar pada pembinaan karakter jangka panjang.
“Dukungan John Herdman terhadap prinsip pengembangan pemain jangka panjang, termasuk penggunaan aktivitas latihan dan format permainan yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan pemain, menegaskan jalur menuju level elite dalam sepak bola dimulai dari akar rumput,” kata DeVos yang juga menjad asisten pelatih Herdman di Toronto FC, dikutip dari Canada Soccer, Senin, 5 Januari 2025.
Herdman Memiliki Kemampuan Membenahi Mental Pemain
Rekam jejak Herdman di Kanada, baik ketika menangani tim putra dan putri, menunjukkan perubahan yang dilakukan tidak berawal dari papan taktik, melainkan pembenahan mental, ego, dan dinamika ruang ganti.
Di bawah kepemimpinannya, Kanada dikenal memiliki kohesi yang kuat, rasa saling percaya, dan identitas kolektif yang solid termasuk penguatan di akar rumput.
“Pendekatan itu sejalan dengan prinsipnya yang berfokus pada pengajaran dasar-dasar permainan kepada pemain muda, sehingga memberi mereka peluang terbaik untuk mencapai level elite sepak bola,” kata DeVos, yang saat menjadi pemain memiliki 49 caps bersama timnas Kanada itu.
Konsep persaudaraan yang dibangun Herdman tercermin pada kedisiplinan emosional dan rasa tanggung jawab antarpemain. Junior Hoilett, yang menjadi bagian tim Kanada di Piala Dunia 2022, menggambarkannya sebagai kultur persaudaraan tanpa ego pribadi.