Karena tak ada respon, pelaku AH kemudian memanjat masuk ke dalam rumah.
“Setelah masuk menuju ke lorong, mencongkel jendela di kamar pembantu. Pelaku masuk ke TKP, menggunakan masker, helm full face, sepatu, sarung tangan,” kata dia lagi.
Di lantai 1, kata dia, pelaku kemudian melihat brankas besar dan mencoba membukanya.
“Setelah otak atik dan tidak berhasil, yang bersangkutan naik ke lantai 2,” tuturnya.
Saat itu ia melihat pintu kamar korban A dalam kedaan tertutup, lalu membukanya.
“Lihat korban sedang main HP di atas kasur. Korban menghampiri, pelaku memberi kode ‘diam’. Sempat nanya, ayahmu di mana?,” kata pelaku.
Korban pun menjawab kalau sang ayah sedang keluar.
“Tahu kunci brankas disimpan di mana?,” kata AKBP Dian menirukan ucapan pelaku pada korban.
Saat itu korban mengaku tidak tahu di mana tempat menyimpan kunci brankas.
“‘Tidak tahu, mungkin kakak D tahu’, sambil nunjuk kamar kakaknya di lantai 2,” ujarnya lagi.
Setelah itu, pelaku kemudian merangkul korban A lalu dibawa ke kamar sang ayah.
Lalu pelaku membawa korban ke lemari putih di kamar tersebut.
“Dia bilang ‘saya ikat ya’,” kata AKBP Dian.
Namun korban saat itu rupanya berontak, hingga membuat pelaku murka.
“Korban 2 kali menendang kemaluan pelaku, menendang lutut, dan siku. Dari situ pelaku langsung menusuk korban,” katanya.
“Korban sempat teriak A, makin ditusuk,” ucap dia lagi.
Setelah menusuk korban, pelaku lalu turun lagi ke lantai 1 tempat brankas.
“Sehingga di sana ada bekas darah. Karena tidak berhasil, pelaku kabur lewat jalan masuk, yaitu jendela pembantu, pencet pagar, ke motor, melarikan diri,” ucapnya.