Analisis Performa Berdasarkan Data Modern
Pendekatan berbasis data semakin umum dalam evaluasi performa tim sepak bola profesional. Statistik expected goals (xG) pada laga melawan Wolves menunjukkan West Ham hanya mencatatkan angka 0,25 tanpa satu pun tembakan tepat sasaran. Angka ini mencerminkan minimnya kreativitas serangan serta kegagalan membangun peluang berkualitas.
Perbandingan metrik per pertandingan antara era Graham Potter dan Nuno Espirito Santo menunjukkan penurunan hampir di semua aspek, mulai dari poin per laga, produktivitas gol, hingga efektivitas bertahan. Upaya beralih ke gaya transisi dan serangan balik cepat belum memberikan hasil signifikan. Dalam ilmu kepelatihan modern, perubahan gaya bermain tanpa adaptasi komposisi pemain sering memicu ketidakseimbangan, sesuatu yang tampak jelas pada West Ham saat ini.
Mantan striker West Ham, Jermain Defoe, menekankan pentingnya aspek kompetitif dasar. Ia menyebut bahwa kerja keras saja tidak cukup tanpa keberanian memenangkan duel kedua, melakukan blok krusial, dan menjaga intensitas sepanjang laga. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian performa olahraga yang menempatkan duel fisik dan konsentrasi sebagai faktor kunci dalam pertandingan bertekanan tinggi.
Ancaman Degradasi dan Pelajaran dari Sejarah
Secara historis, hanya enam tim dengan 14 poin atau kurang setelah 20 pertandingan yang berhasil bertahan di Premier League. Contoh terbaru adalah Newcastle United pada musim 2021–2022. Namun, keberhasilan Newcastle tidak lepas dari investasi besar pada bursa transfer Januari, mencapai sekitar £85 juta, yang secara signifikan meningkatkan kualitas skuad.
Kondisi West Ham saat ini sangat berbeda. Meskipun klub telah mendatangkan penyerang Brasil Pablo Felipe, dukungan finansial skala besar seperti yang diterima Newcastle tampak kecil kemungkinannya. Dalam konteks manajemen olahraga modern, keterbatasan investasi sering membatasi ruang manuver pelatih untuk memperbaiki performa dalam waktu singkat.
Tekanan psikologis juga berperan besar. Studi dalam psikologi olahraga menunjukkan bahwa tim yang terjebak di zona degradasi cenderung mengalami penurunan kepercayaan diri kolektif, yang berdampak langsung pada pengambilan keputusan di lapangan. Hal ini terlihat pada West Ham, terutama saat menghadapi situasi krusial di area pertahanan sendiri.