Siapa tahu yang untuk wapres bisa dikirim lewat jalur kekeluargaan.(Dahlan Iskan) Lha koq urusan Pemerintahan dicampur-aduk dengan urusan keluarga ?? Kalau memang urusan seperti itu menjadi tugasnya Presiden yang didelegasikan kepada Wakilnya – supaya memonitor kinerja menteri-menteri terkait untuk menangani masalah tersebut, maka surat tindasannya mesti formal sebagaimana mestinya….. ini Pemerintahan loh Abah DI, bukan urusan kekeluargaan !! Sepertinya Abah sudah terobsesi oleh kehebatan Superman….. seolah-olah kalau Superman tahu, maka masalahnya pasti cepat beres….. padahal Superman itu kurang bisa mengurus dirinya sendiri….. lha itu buktinya, pakai celana dalam saja diluar….. wkwkwkwkwk….. Atau, jangan-jangan, melalui CHDI yang bernuansa “kampanye secara terselubung” untuk seseorang….. harapan Abah – akan kejatuhan “bintang terang”….. untuk kembali menjadi “sesuatu”….. wkwkwkwkwk….. Sangat kontradiktif !! Di satu sisi, sepertinya Abah bangga dengan kiprahnya kaum muda – tetapi di lain sisi, Abah sebagai orang tua masih “kepéngén”….. Apa kata dunia….. ?? Wkwkwkwkwk…..
ALI FAUZI
Pak DIS sepertinya punya kesan saudara kita warga Batak/Sumut seperti buah durian: Tampak keras di luar, tapi mak nyus dalamnya (isinya).
Kurniawan Roziq
Coba Jokowi fokus dengan julukan bapak infrastruktur Indonesia dan didampingi dengan nawa cita nya , jgn berfikir hilirisasi, biarlah mantunya yg sdh bekerja, biarlah yg jualan martabak dan pisang goreng, betapa harum namanya saat ini ,
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
DARI PALANG KAYU SAMPAI WHOOSH.. 1). Jalan tol pertama di dunia lahir di Amerika Serikat: Pennsylvania Turnpike, dibuka tahun 1940. Pemicunya sederhana tapi mendesak yaitu mobil makin banyak, jalan biasa tak sanggup menampung. Solusinya jalan khusus, akses terbatas, dan berbayar. Menariknya, turnpike itu masih aktif dipakai sampai hari ini, tentu dengan wajah yang sudah jauh lebih modern. 2). Indonesia mengikuti jejak itu lewat Tol Jagorawi (Jakarta–Bogor–Ciawi), diresmikan 1978. Panjangnya sekitar 59 km. Dari satu ruas itulah jaringan tol tumbuh. Kini Indonesia punya ribuan kilometer tol, puluhan ruas, membentang dari Jawa hingga Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Dampaknya adanya jalan tol nyata, yaitu: 1). waktu tempuh terpangkas, 2). biaya logistik turun, 3). kota-kota baru tumbuh, 4). industri pindah dari pusat kota, dan 5). perjalanan jauh tak lagi terasa sebagai ujian kesabaran nasional. Tol mengubah “peta ekonomi”. Bukan sekadar mengubah “peta jalan” ### Lalu datanglah Whoosh. Kreta cepat tanpa palang, tanpa setir, tanpa klakson. Ia seperti bertanya diam-diam. Setelah kita terbiasa dengan tol, apakah kita siap melompat ke tahap berikutnya? Atau masih ingin macet, asal cepat sampai “wacananya”?