Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
DUA ALINEA PENUTUP CHDI HARI INI… Dua kalimat penutup itu terlihat santai, bahkan seperti bercanda. Tapi bagi yang pernah mencicipi bangku jurnalistik—meski hanya majalah dinding SMA—itu jelas bukan kalimat sembarangan. Itu teknik. Itu closing punch. Dalam pelajaran jurnalistik lama, kita diajari, kalau fakta sudah disampaikan semua, tutuplah dengan kalimat yang ringan tapi menggigit. Bukan untuk menuduh, melainkan untuk mengingatkan. Tentang isi berita keseluruhan. Kalimat tentang Wapres yang “tidak mendapat tindasan” lalu disambung “siapa tahu lewat jalur kekeluargaan” adalah contoh klasik. Secara formal, tidak ada yang salah. Secara etik, aman. Tapi secara makna, pesannya sampai. Bahkan “sangat” sampai. Itulah kelebihan gaya seperti ini, yaitu kritik tanpa marah, sindiran tanpa teriak. Pemerintah tidak disudutkan, tapi juga tidak dibiarkan nyaman. Maka wajar jika terasa seperti lelucon kecil. Dalam jurnalistik, humor tipis di akhir tulisan sering justru yang paling “serius”. ### Dan ya, teknik seperti ini memang diajarkan—apalagi di majalah Tempo. Yang pernah punya slogan: 1). Paduan antara karya sastra dan jurnalistik. 2). Enak dibaca dan perlu.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
PERCAKAPAN DI ATAS JALAN TOL.. Sopir Bus: “Kenek… Kamu sadar nggak, sekarang Surabaya–Jakarta bisa lewat tol terus hampir 750 kilo.” Kenek: “Sadar, Pak. Makanya saya sekarang bukan kenek… Saya penumpang bus yang tidak harus bayar. Malah dibayar.” Sopir: “Dulu ya… Surabaya–Jakarta itu perjalanan batin, full rusak. Sekarang keluhannya hanya saat bayar tol. Makin lama makin mahal..” Kenek: “Betul. Dulu rem dipakai terus, sekarang rem istirahat. Yang kerja keras malah gas dan kartu tol.” Sopir: “Dulu kalau nyampe Jakarta badan pegal, emosi habis, doa sudah komplit. Sekarang nyampe Jakarta masih segar, masih bisa minta tambahan rit.” Kenek: “Dulu kita hafal semua polisi tidur. Sekarang polisinya beneran tidur dan kalah sama kita. Polisi belum bangun, kita udah sampai Jakarta.” Sopir: “Tol ini berkah. Setir muter dikit, nasib muter banyak.” Kenek: “Iya Pak. Jalan lurus panjang begini bikin kita sadar. Hhidup itu enak kalau nggak banyak belokan.” Sopir: “Makanya kita harus bersyukur.” Kenek: “Siap, Pak. Tinggal satu yang belum berubah…” Sopir: “Apa?” Kenek: “Gaji saya tetap dan masih belak-belok.”