Hasyim Muhammad Abdul Haq
Beruntung sekali Sumut punya Gubernur Bobby yang punya jalur keluarga ke Pemerintah Pusat. Yang kasihan itu provinsi lain yang punya jalan “kesabaran” seperti Medan-Berastagi tapi tidak punya jalur keluarga ke Pemerintah Pusat. Saya usulkan semua provinsi, pilihlah gubernur yang punya jalur keluarga entah ke presiden, ke wapres, ke menteri, atau siapa saja yang tinggal di istana negara. Jalur keluarga = jalur cepat surat-menyurat.
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Sebenarnya “keputusan” saja itu tidak cukup. Saya orang Mojokerto. Tahun 2004 itu sudah girang tak karuan ketika Presiden Megawati melakukan Peletakan Batu Pertama untuk jalan tol Surabaya-Mojokerto. Lalu Megawati kalah di Pilpres 2004. Diganti Presiden SBY. Jalan yang sudah resmi groundbreaking saja tiba-tiba tidak dikerjakan lagi. Bukan 1-2 tahun, tapi 10 tahun. Orang Mojokerto harus menunggu Presiden Jokowi untuk melanjutkan apa yang direncanakan Presiden Megawati. Tapi kasihan Jokowi sekarang kebagian dituduh “tukang utang” padahal membangun ribuan kilometer jalan tol. Utang bisa dibayar, santai saja. Tapi coba bayangkan andai sekarang belum ada jalan tol seperti sekarang. Serius, BAYANGKAN! Ekonomi pastinya tak akan berjalan sebaik sekarang ini. Kalau Anda mengatakan sekarang ekonomi tidak baik, tanpa jalan tol bisa jadi jauh lebih tidak baik. Bayangkan!
Mukidi Teguh
Merdeka pun belum tentu kita sebagai individu bakal sejahtera. Karena merdeka sejatinya cuma memindahkan kekayaan dari penguasa besar ke penguasa wilayah. Yang perilakunya cenderung sama, karena memang berasal dari spesies yang sama, yaitu manusia. Rakyat ya begitu-begitu aja. Contohnya ada dua: pertama, mantan provinsi ke duatujuh. Kedua: provinsi pemekaran yang sebagian besar malah masuk kategori bangkrut. Bukan karena sumber daya alamnya yang kurang, tapi penguasa barunya lebih kemaruk dari penguasa provinsi induknya.
Em Ha
Bukan hanya orang Batak. Bukan hanya orang Karo. Orang Melayu pun punya kesabaran tingkat dewa. Sering-seringlah orang yang di Jawa sana berkunjung ke Sumatera. Terutama yang punya mobil mesin disel. Nikmati antrian lama untuk mengisi BBM itu. Orang disini tak habis pikir. Bagaimana mungkin, Riau penghasil minyak no.1 Indonesia, beli minyak macam ngemis. Saking geramnya. “Apakah harus kami teriak Merdeka..!”. Kalimat yang diucapkan Bupati Meranti dan Gubernur Riau. Geram dengan ketimpangan keuangan pusat-daerah. Dua-duanya sudah masuk bui. Ngeri. Ada baiknya Abah ke sini lagi. Pekanbaru. Ajak juga kenkawan Perusuh. Hari pertama kunjungan industri ke Minas. Minyak yang dihasilkan terbaik di dunia. Hari kedua, pagi-pagi kita senam bareng di depan Istana Siak. Barbeqeu sambil makan kebab di tepi sungai terdalam Indonesia. Menjawab request Murid SD Internasional. Kalau tak tahun ini. Tahun depan. Tahun ini biarlah kita naik kapal Pelni.