Mukidi Teguh
Abah rasanya kada tapi ingat wan kampung halaman kadua. Di Burnio, hanyar ada tol BPP – SMR. Padahal paralu banar tol Balikpapan-Banjarmasin, Banjarmasin – Palangkaraya, Palangkaraya – Kotawaringin, wan Kotawaringin – Pontianak. Jangan mantang-mantang kami urang sini nih kada tapi banyak prutis, lalu kada tapi diperhatiakan wan pamarintah. Aur ka sana tarus berataan …
heru santoso
Alkisah….. Pak Boss satu ini bukan pengusaha kaleng‑kaleng. Suksesnya seantero Nuswantoro, tulisannya dibaca sambil ngopi, dan petuahnya sering terdengar seperti sabda. Maka wajar bila dulu ada mimpi besar: “anak yang sekecil itu” kelak duduk manis di singgasana bisnis kerajaan bisnis yang telah dibangunnya, lengkap dengan mahkota warisan. Mahkota sempat terpasang. Pangeran kecil diarak. Rakyat bertepuk tangan. Namun dunia nyata ternyata tak seromantis kolom opini. Cerita suksesi tersendat, mahkota lepas, pun kerajaan besarnya. Pak boss ini tidak pernah kapok. Di kerajaan…eh kadipaten bisnis lain yang lebih pribadi, rumus lama masih dicoba lagi: darah dulu, merit kemudian. Lagi‑lagi harapannya sama—anaklah penerusnya. Tapi kali ini jawabannya menusuk jantung logika: “Kalau sukses, nanti dibilang karena bapaknya. Kalau gagal, aku yang dituding meruntuhkan warisan.” Nah lho. Di titik itulah luka lama terasa perih kembali. Maka kolom harian pun berubah jadi ruang terapi, tempat frasa “anak sekecil itu” diulang berturut hari—entah sebagai sindiran, pembenaran, atau sekadar pengingat bahwa tidak semua anak ingin memakai mahkota yang terlalu berat. Tak semua kerajaan cocok diwariskan, dan tak semua anak bercita‑cita jadi raja—apalagi kalau raja yang sudah purna pun masih ditanya ijazah.
Murid SD Internasional
Pak Guru @Hasyim Muhammad Abdul Haq. Urusan surat-menyurat cepat ini kan outputnya belum jadi, Pak. Outputnya yaitu solusi jalur macet Medan-Brastagi. Jika output positif untuk rakyat belum terwujud nyata, maka akses jalur keluarga yang tengah dibahas di CHD kali ini belum bisa disebut sebagai “keberuntungan” bagi provinsi yang bersangkutan. Sekarang kita kontraskan dengan pemimpin daerah yang sama sekali TIDAK PUNYA koneksi keluarga ke istana. Saya ambil contoh, Bupati Banyuwangi dua periode, Abdullah Azwar Anas. 1. Dalam 9 tahun, pendapatan per kapita penduduk Banyuwangi dari Rp20,8 juta melesat jadi Rp51,2 juta. 2. Efisiensi pengelolaan anggaran daerah meraih nilai A dan dinobatkan terbaik se-Indonesia. 3. Digitalisasi Mal Pelayanan Publik dan Smart Kampung dengan fiber optik dan akses wifi cepat gratis. 4. Inovasi pelayanan publik gratis bernama Rantang Kasih, para lansia sebatang-kara di Banyuwangi dapat kebutuhan makan gratis dalam rantang, diantar langsung. 5. Program Garda Ampuh / Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah, beasiswa untuk anak-anak Banyuwangi, dalam bentuk uang saku, uang transport, uang tabungan. 6. Program Jemput Bola, orang sakit di Banyuwangi dicari, dijemput, dan dibawa ke IGD. 7. Banyuwangi dinobatkan sebagai daerah yang paling cakap mengelola inflasi, terbaik se-Jawa dan Bali. Tak hanya sejahtera warganya, melesat ekonominya, meroket PAD-nya, tapi Banyuwangi bisa wangi tanpa Bupatinya punya “koneksi”.