Joko Wito
Pernah satu kos dengan orang batak di surabaya. Sama persis yg ditulis abah, ngobrol biasa serasa dimarahi.Ceplas ceplos apa adanya.Pernah membentak ku gara gara, tidak memperhatikan klu diajak ngobrol, katanya.. Maunya klu dia ngomong,saya berhenti aktivitas & bertatap mata.Sungguh pengalaman berarti,buat sy yg asli jawa pelosok . Salam sehat buat abah.
Waris Muljono
Sungguh benar “ramalan” prof Yusril ketika memberi pertimbangan ke Prabowo dulu, saat awal2 Prabowo hendak memutuskan siapa pasangan cawapresnya. Sbg ketua partai yg ikut mengusung capres prabowo, prof Yusril mewanti-wanti, “Pencalonan gibran sbg cawapres sah secara hukum, tapi akan jadi bahan omongan sepanjang masa”. Dan peringatan prof Yusril tsb terbukti. Sampai hari ini wapres gibran jadi bahan omongan, gunjingan, olokan, bahkan tulisan paragrap penutup CHDI 2 hari berturut-turut. Hehehehhe
istianatul muflihah
alkisah, seorang tukang kayu menebang pohon lalu membuatkan kursi spesial bagi anaknya w
xiaomi fiveplus
mungkin pak gubernur bs lewat lapor mas wapres. kalo gak punya nomornya, kebetulan sy masih simpan.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
@pak Syed Taifiq.. Membaca tulisan Anda mengingatkan saya pada pengalaman pribadi di Anaheim, pada tahun yang sama: 1989. Saya sempat menginap dua malam di sebuah hotel dekat Disneyland, dan ada dua kejadian yang hingga kini masih teringat jelas. Pertama, saat naik taksi dari hotel menuju Disneyland, saya melihat konvoi motor KKK — Ku Klux Klan, kelompok supremasi kulit putih yang cukup dikenal di Amerika. Sopir taksi bercerita, konvoi seperti itu kadang berperilaku mirip “geng motor” di Indonesia: sama-sama bergerombol, sama-sama bikin orang waswas. Kedua, yang lebih mengesankan: setiba di Disneyland, sopir meminta bayaran dua kali lipat dari argo, dengan alasan penumpangnya dua orang. Awalnya saya menolak, karena terasa seperti diperas. Yang membuat saya heran, sopirnya orang Lebanon, mengaku Muslim, dan kami sama-sama sedang berpuasa Ramadan. Namun setelah itu, ke mana pun saya berjalan, saya merasa terus diikuti. Akhirnya saya memilih membayar saja—bukan karena setuju, tapi demi menghindari urusan kecil yang bisa jadi panjang. He he… ngalah bukan berarti kalah. Kadang itu sekadar memilih jalan paling sederhana.