Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 3 Januari 2026: Jalur Kekeluargaan
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
KEPUTUSAN 65 KM YANG TERLALU PANJANG.. CHDI hari ini seperti keluhan yang ditahan-tahan, tapi justru itulah yang bikin kena. Bukan minta dana, bukan minta APBN bocor hari ini—hanya minta keputusan. Dan ironisnya, keputusan itu justru terasa lebih mahal dari Rp20 triliun. Medan–Berastagi 65 km ditempuh 5 jam. Itu bukan perjalanan, itu retret spiritual. Cocok untuk melatih kesabaran, pengendalian emosi, dan mungkin doa-doa tambahan. Orang Batak, yang katanya keras, justru tampil sebagai biksu lalu lintas: sabar, hening, menerima takdir. Padahal ini jalan negara. Standar negara. Tapi lebarnya kalah sama jalan desa di Jawa. Kalau aturan pemerintah bisa protes, mungkin sudah demo kecil-kecilan. Yang menarik: studi sudah ada, rute sudah ada, gubernur sudah kirim surat. Lengkap. Tinggal satu yang belum: keberanian mengetuk palu keputusan. Palu kecil saja, tidak perlu palu godam. Tol ini bukan soal mobil cepat. Ini soal logistik, paru-paru ekonomi, dan harga cabe nasional. Kalau keputusan terus macet, jangan heran kalau jalanan tetap lima jam—dan cabe tetap bikin emosi.
rid kc
Pak Jokowi sudah benar mengutamakan pembangunan Indonesia sentris bukan Jawa sentris. Lihatlah ketika pak Jokowi menjadi presiden pembangunan di Indonesia timir terutama Papua, Maluku, NTT, NTB sangat massif sehingga masyarakat menikmati hasil kerja presiden Jokowi. Harusnya Sumatera menjadi prioritas presiden Prabowo dalam membangun infrastruktur jalan itu. Jaman sudah kayak gini ternyata masih ada jalan yang tidak layak. Di pedalaman desa di Jawa jalanan sudah pakai beton dan gang kecil pun di beton. Kontras dengan kondisi di luar Jawa.
djokoLodang
-o– … Baru melihat orang Batak bicara saja rasanya sudah seperti dimarah-marahi. … *) Begitu juga cara bicara orang Korea. Seperti sedang marah. Saat pertama kali dengar orang Korea sedang bicara dengan temannya di kafe dulu, saya kira mereka sedang bertengkar. –0-