Ja’far Syahidan
agak aneh saya melihat murid sd internasional dipanggil “pak”… saya malah melihat pola yg konsisten dari akun murid sd internasional, yaitu pola kekanak kanakan nya… kalau dia disebut bapak bapak, saya malah ragu… tapi kalau ia adalah anak remaja yg semata tajam meniru, saya bisa lebih yakin. ingat, anak anak itu adalah peniru ulung. kebetulan saya seorang staf pengajar, dan saya sudah biasa menemukan anak anak yg kebangetan pinter nya, dan sering juga menemukan anak anak yg kebangetan ndablek nya. sering pula saya menemukan anak yg kemampuan kognitif nya melampaui keahlian motorik nya, dan ada pula yg sebaliknya… murid sd internasional saya melihatnya sbg sosok anak yg kebangetan pinter nya, meniru banyak pola pikir dan gaya bahasa para komentator chd di sini, jadi wajar jika terkesan ini anak orang dewasa, meski saya meragukan itu…
sinung nugroho
Jalan tol bukan satu-satunya solusi mengatasi kemacetan untuk perjalanan regional. Jika masih bisa dengan pelebaran jalan kenapa tidak dilakukan, katakan Medan – Berastagi dibuat empat lajur dua arah dengan median pemisah. Kita perlu belajar dari apa yang dialami geliat ekonomi rakyat jelantaj di Cianjur, Purwakarta, pantura Jabar setelah ada tol. Memang memudahkan pelaku perjalanan jarak jauh, tetapi memgorbankan kegiatan ekonomi jalan arteri. Jalan tol terbukti tidak memberi manfaat masyarakat yang dilalui tol, sekarang sudah mulai dirasakan warga pantura Jateng.