Doa Rasulullah dan Harapan yang Tetap Dijaga
Selain kepasrahan, Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga harapan. Rasulullah mengajarkan doa berikut untuk orang yang sedang sakit:
“Allahumma rabbannaas adzhibil ba’sa isyfi anta sy syaafii laa syifaa’a illaa syifaa’uka syifaa’an laa yughaadiru saqamaa.”
Artinya: “Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah, Engkaulah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit.”
Doa ini menunjukkan bahwa harapan tetap boleh dipanjatkan, meskipun secara medis peluang kesembuhan sangat kecil. Dalam pendekatan paliatif modern, harapan dipandang sebagai faktor penting yang membantu pasien bertahan secara mental dan emosional.
Dzikir sebagai Penopang Ketenangan Batin
Dzikir pendek yang sering dianjurkan saat sakit berbunyi:
“Hasbiyallaahu laa ilaaha illaa Huwa.”
Artinya: “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia.”
Dzikir ini membantu menenangkan pikiran ketika rasa sakit atau kecemasan datang. Ketenangan batin terbukti berpengaruh besar terhadap kualitas hidup pasien penyakit kronis, terutama dalam menghadapi rasa tidak pasti.
Doa Nabi Yunus dan Jalan Keluar Terbaik
Doa Nabi Yunus yang sering dibaca dalam kesempitan adalah:
“Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin.”
Doa ini kerap dipahami sebagai pembuka jalan keluar. Jalan keluar tersebut tidak selalu berupa kesembuhan fisik, tetapi bisa berupa ketenangan menerima keadaan, kekuatan menghadapi hari demi hari, atau kemudahan menjalani hidup dengan lebih bermakna.
Cara Mengamalkan Doa secara Seimbang
Cara doa minta kesembuhan untuk penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara medis perlu dilakukan dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Doa tidak menggantikan pengobatan, tetapi berjalan seiring dengan ikhtiar medis. Mengikuti saran dokter, menjalani terapi, dan minum obat tetap menjadi bagian dari tanggung jawab manusia.
Doa menjaga hati agar tidak runtuh, sementara ikhtiar menjaga tubuh agar tetap bertahan.