finnews.id – Cara doa minta kesembuhan untuk penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara medis sering muncul ketika seseorang berada pada titik paling lemah dalam hidupnya. Saat dunia medis menyatakan penyakit bersifat kronis, progresif, atau tidak memiliki terapi penyembuhan total, doa kerap menjadi sandaran terakhir.
Dalam Islam, kondisi ini tidak dipandang sebagai akhir, karena janji Allah tidak pernah dibatasi oleh kemampuan manusia.
Doa dalam situasi seperti ini tidak hanya bertujuan agar penyakit hilang, tetapi juga untuk memperoleh ketenangan, kekuatan batin, dan kemampuan menjalani hidup dengan lebih lapang.
Pemahaman ini sejalan dengan pendekatan kesehatan modern yang menekankan kualitas hidup, terutama pada penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara medis.
Kesembuhan Tidak Selalu Berarti Penyakit Hilang
Dalam ilmu kedokteran, terdapat konsep perawatan paliatif, yaitu pendekatan yang berfokus pada pengurangan penderitaan dan peningkatan kualitas hidup pasien dengan penyakit serius atau kronis.
Organisasi Kesehatan Dunia menjelaskan bahwa tujuan utama perawatan paliatif bukan menyembuhkan penyakit, melainkan membantu pasien hidup dengan lebih nyaman, tenang, dan bermakna.
Pandangan ini selaras dengan ajaran Islam. Kesembuhan tidak selalu berarti tubuh kembali seperti semula. Kesembuhan bisa berupa ketenangan hati, berkurangnya kecemasan, serta kekuatan menerima keadaan tanpa kehilangan harapan. Pada titik inilah doa memiliki peran yang sangat penting.
Doa Nabi Ayyub dan Kepasrahan Tanpa Tuntutan
Dalam cara doa minta kesembuhan untuk penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara medis, doa Nabi Ayyub menjadi teladan utama. Doa tersebut berbunyi:
“Rabbi annii massaniyad durru wa anta arhamur raahimiin.”
Artinya: “Wahai Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penyakit dan Engkau Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”
(QS Al Anbiya ayat 83)
Doa ini tidak berisi permintaan langsung agar penyakit diangkat. Nabi Ayyub hanya menyampaikan penderitaan yang dialami dan menyerahkan sepenuhnya kepada kasih sayang Allah. Sikap ini mencerminkan kepasrahan yang sadar, bukan keputusasaan.
Dalam kajian psikologi kesehatan, penerimaan terhadap kondisi sakit terbukti membantu pasien mengurangi tekanan mental. Stres yang lebih rendah berperan besar dalam menjaga kestabilan emosi dan daya tahan hidup, meskipun penyakit tetap ada.