Akibatnya, tingkat kemanisan produk justru meningkat. “Makanan kita sekarang bahkan lebih manis dibandingkan sebelum aturan itu diterapkan,” kata Avena.
Ahli gizi sekaligus profesor di NYU Langone Health, Collin Popp, menyatakan rekomendasi FDA yang membatasi gula tambahan hingga 10 persen dari total kalori harian memang memberi ruang fleksibilitas. Dalam pola makan 2.000 kalori, batas tersebut setara dengan sekitar 50 gram gula per hari, atau sedikit lebih banyak dari kandungan gula dalam satu kaleng minuman bersoda.
Namun, menurut Popp, batas tersebut masih terlalu longgar. Ia menilai konsumsi gula tambahan idealnya berada di bawah 5 persen dari total kalori, bahkan mendekati nol bagi penderita diabetes atau pradiabetes.
Popp menekankan pentingnya kewaspadaan, termasuk pada produk yang tampak sehat atau berlabel organik. Kacang panggang, susu nabati, camilan berbasis kacang polong, roti muffin, hingga yogurt Yunani dapat mengandung gula tambahan dalam jumlah yang tidak disadari konsumen.
Sebagai contoh, satu porsi yogurt rasa ceri hitam merek ternama diketahui mengandung sekitar 9 gram gula tambahan meski berlabel bebas lemak. Susu almond kemasan juga dapat mengandung sekitar 7 gram gula per cangkir.
Pakar menyarankan konsumen mengambil kendali penuh atas asupan gula. Cara sederhana bisa dimulai dengan memilih yogurt tawar lalu menambahkan buah segar atau madu secukupnya, serta menakar sendiri pemanis yang digunakan dalam minuman.
Meski pemanis buatan dan gula alkohol dapat menurunkan jumlah kalori, Avena mengingatkan bahwa rasa manis tetap merangsang pusat penghargaan di otak dan berpotensi mendorong konsumsi berlebihan. Penelitian menunjukkan bukan gula itu sendiri, melainkan rasa manis yang memicu respons tersebut.
Avena menegaskan pemanis alternatif tetap memiliki peran tertentu, misalnya allulose bagi penderita diabetes tipe 1 karena tidak memengaruhi kadar gula darah. Namun, bagi masyarakat umum, mengurangi ketergantungan terhadap rasa manis menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang.