Terlebih saat sang dosen menggerayangi tubuhnya tanpa izin.
“Setelah saya sudah di depan, mobilnya jalan lagi sampai depan prodi psikologi, di situ beliau sudah menurunkan sedikit kursinya seperti berbaringm, saya disuruh urut. Saya bilang nda tau ba urut (tidak bisa urut). Dikasih contoh oleh mner begini sapu-sapu saja (posisi tangannya sudah mengusap-usap belakang saya). Semakin tidak nyamannya saya tangan beliau tanpa izin dia meletakannya di paha saya sambil bicara kalau urut itu enaknya sambil tidur,” ujar Maria.
Tak cuma itu, Maria bahkan diduga mendapatkan pelecehan verbal.
Yakni sang dosen sempat mengajaknya berbincang hal-hal dewasa soal jika mereka menginap satu kamar.
Mendengar ucapan sang dosen, Maria sontak menangis.
“Saya bilang mner ini sudah kelewatan tapi dengan pikirannya yang biadap beliau hanya berkata ‘nda apa apa torang manusia semua pasti ada kesalahan, jadi kalau sudah terjadi ya terjadi no’. Di situ saya semakin jijik dan sudah tidak tahan dikurung dalam mobil,” kata Maria.
Namun saat Maria menangis, dosen DM justru kian nekat. Maria mengaku mendadak pipinya dicium oleh sang dosen.
“Beliau bertanya bisa mo dicium, saya bilang tidak mner ini sudah lewat batas. Saya sudah takut sambil menangis tapi saat saya menangis beliau tidak melihat. Tiba-tiba beliau sudah menarik pipi untuk diciumnya (mencium saya). Posisi tangan kiri saya pakai untuk menutup mulut saya dan tangan kanan saya mendorong mner. Terus dia bilang ‘bibir nda’. Saya bilang tidak mau,” imbuh Maria.
Usai kejadian tersebut, Maria tampak syok hingga akhirnya ia menulis surat aduan untuk pihak kampus.