Mereka juga mendesak penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang merusak lingkungan.
Perusakan hutan dan tata kelola alam yang buruk dinilai berkontribusi besar terhadap terjadinya bencana hidrometeorologi di Sumatera.
Tak hanya kepada pemerintah, ulama Aceh juga menyampaikan pesan kepada masyarakat agar menjaga etika sosial di tengah bencana.
Tgk Faisal menegaskan permintaan penetapan darurat nasional bukan berarti daerah menyerah atau tidak mampu bekerja.
“Ini adalah pengakuan bahwa dalam kondisi tertentu, bencana yang besar memang tidak bisa ditangani sendiri oleh daerah,” jelasnya.
Ia mencontohkan kondisi lapangan saat banjir bandang, ketika arus deras bercampur batu dan material membuat warga tak mampu saling menolong.
Menurut Tgk Faisal, sejarah panjang bencana di Aceh telah membentuk ketangguhan spiritual masyarakatnya.
Dalam setiap musibah, ulama hadir bukan hanya sebagai pemimpin doa, tetapi juga penguat moral dan penjaga persatuan.
“Ulama akan terus bersama masyarakat dan pemerintah Aceh, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, untuk membantu rakyat menghadapi musibah,” pungkasnya.
- banjir dan longsor Aceh terbaru
- bantuan internasional bencana Aceh
- darurat hidrometeorologi Sumatera
- Darurat Nasional Bencana Sumatera
- Prabowo tetapkan bencana nasional Sumatera
- Presiden Prabowo Subianto
- rekomendasi ulama Aceh ke Presiden
- status darurat nasional bencana alam
- Ulama Aceh
- Ulama Aceh Desak Presiden Tetapkan Darurat Nasional Bencana Sumatera
- Ulama Aceh minta status bencana nasional