Finnews.id – Italia, pemenang Piala Dunia empat kali dan juara Eropa 2021, berada dalam situasi yang sangat genting. Gli Azzurri hanya mampu finis di posisi kedua pada grup kualifikasi mereka, memaksa mereka melewati jalur playoff yang berisiko.
Italia terancam absen dari Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, menggarisbawahi kemerosotan mereka sejak menjuarai edisi 2006.
Pelatih Italia, Gennaro Gattuso, menyuarakan keluhan atas format kualifikasi Eropa yang dianggapnya terlalu ketat, meskipun Eropa sendiri mendapatkan peningkatan kuota terbesar, dari 13 menjadi 16 tim yang lolos langsung atau melalui playoff.
Dominasi Elite Mulai Terkikis: Tanda-tanda Perubahan di Puncak Sepak Bola
Kesulitan yang dialami Italia menunjukkan adanya penurunan performa internal mereka. Terakhir kali Italia lolos adalah pada tahun 2014, dan mereka tersingkir di fase grup pada dua partisipasi terakhir mereka (2010 dan 2014).
Tren ini tidak terbatas pada Italia. Jerman, yang memenangkan gelar keempatnya pada 2014, juga tersingkir di fase grup pada dua Piala Dunia berikutnya. Data ini secara kolektif mengindikasikan bahwa dominasi mutlak dari tim-tim elite tradisional Eropa mungkin mulai terkikis.
Pergeseran kekuatan ini juga terasa di luar Eropa. Nigeria, yang merupakan kekuatan utama di sepak bola Afrika dengan enam kali lolos antara 1994 hingga 2018, kini gagal kualifikasi untuk kedua kalinya berturut-turut setelah absen pada Qatar 2022.
Peluang Baru di Tengah Perdebatan: Piala Dunia 2026 Menyambut Debutan Fenomenal
Keputusan Badan Pengatur Sepak Bola Dunia, FIFA, untuk memperluas turnamen unggulannya, Piala Dunia, dari 32 tim menjadi 48 tim mulai edisi 2026 telah memicu perdebatan sengit sejak diumumkan pada tahun 2017.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, berargumen bahwa perubahan ini membuka peluang bagi negara-negara yang sebelumnya tidak pernah membayangkan untuk berpartisipasi. Prediksi Infantino terbukti: tim-tim kecil telah mencetak sejarah.
Curaçao dan Cape Verde menjadi bukti nyata dari perubahan ini. Curaçao, pulau Karibia yang memecahkan rekor sebagai negara dengan populasi terkecil yang lolos ke Piala Dunia (menggantikan Islandia), dan Cape Verde (terkecil ketiga) mengamankan tempat mereka di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tahun depan. Keberhasilan mereka disambut hangat oleh Infantino, yang menyebut pencapaian Curaçao sebagai inspirasi luar biasa.
Selain dua negara kepulauan tersebut, Uzbekistan dan Yordania juga mencatatkan sejarah sebagai debutan. Sementara itu, babak playoff masih berpotensi melahirkan wajah-wajah baru lainnya, seperti New Caledonia, Suriname, Kosovo, dan Albania.
Kembalinya Para Raksasa dan Sulitnya Langkah Juara 4 Kali
Format yang diperluas ini tidak hanya melahirkan debutan, tetapi juga menandai kembalinya tim-tim yang telah lama absen. Skotlandia kembali ke panggung global setelah menanti sejak 1998, sama halnya dengan Norwegia.
Kembalinya Norwegia memastikan bintang top dunia, Erling Haaland, akan tampil di turnamen sepak bola terbesar untuk pertama kalinya. Austria dan Haiti (setelah 1974) juga mengamankan comeback yang telah lama dinanti.
Di sisi lain, perluasan kuota kualifikasi, terutama untuk kawasan seperti Afrika (naik dari 5 menjadi 9 slot langsung) dan CONCACAF (dari 3 menjadi 6 slot langsung), tidak menjamin langkah mulus bagi tim-tim tradisional. Bahkan, negara-negara yang secara historis kuat tetap kesulitan.
Ancaman Kejutan dan Ambisi Baru di Panggung Dunia
Keberhasilan Curaçao dan Cape Verde diharapkan mampu memicu perkembangan sepak bola domestik di negara-negara kecil. Visi FIFA untuk turnamen yang diperluas adalah memberikan inspirasi bagi generasi mendatang.
Sejarah Piala Dunia telah mencatat banyak kejutan. Mulai dari Amerika Serikat yang mengejutkan Inggris pada 1950, Kamerun mengalahkan juara bertahan Argentina pada 1990, hingga Arab Saudi menaklukkan Argentina (yang kemudian menjadi juara) pada 2022.
Puncaknya, Maroko menjadi negara Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia pada 2022, setelah mengalahkan raksasa Eropa seperti Belgia, Spanyol, dan Portugal. Fenomena ini menunjukkan bahwa kesenjangan kualitas antara tim-tim “unggulan” dan “kuda hitam” semakin tipis.
Sebagai salah satu tuan rumah dengan Mauricio Pochettino sebagai pelatih, Amerika Serikat akan berjuang untuk melampaui pencapaian terbaik mereka, yaitu perempat final tahun 2002.
Meskipun demikian, tim-tim dengan sejarah panjang seperti Argentina, Brasil, Spanyol, dan Prancis tetap menjadi favorit kuat untuk mengangkat trofi. Sepanjang sejarah 95 tahun, gelar Piala Dunia hanya pernah dibagikan kepada delapan negara saja.
- Amerika Serikat
- Cape Verde
- Curaçao
- Curaçao dan Cape Verde
- Dampak Ekspansi Piala Dunia 48 Tim 2026
- Ekspansi FIFA
- Erling Haaland
- Erling Haaland Piala Dunia 2026
- FIFA
- iala Dunia
- Italia
- Italia Gagal
- Kualifikasi
- Kualifikasi Piala Dunia
- Mengapa Italia Terancam Gagal Kualifikasi Piala Dunia
- negara terkecil lolos Piala Dunia
- Nigeria
- Piala Dunia 2026
- Sepak Bola