Home Lifestyle 4 Alasan Mengapa Belanda Adopsi Konsep Hunian Terapung
Lifestyle

4 Alasan Mengapa Belanda Adopsi Konsep Hunian Terapung

Bagikan
Konsep Hunian Terapung
Konsep Hunian Terapung, Image: DALL·E 3
Bagikan

finnews.id – Belanda menghadapi dua tantangan utama: keterbatasan lahan dan risiko banjir yang meningkat. Inilah yang mendorong negara ini mengadopsi konsep hunian terapung sebagai solusi inovatif. Komunitas Schoonschip di Amsterdam menjadi bukti nyata. Saat badai melanda pada Oktober 2022, rumah-rumah di sana naik-turun mengikuti permukaan air, memberikan rasa aman yang tidak bisa dijamin hunian konvensional di darat.

Keamanan Saat Banjir

Menurut Siti Boelen, warga Schoonschip, “Kami merasa lebih aman saat badai karena kami mengapung.” Hal ini menunjukkan bahwa konsep hunian terapung bukan sekadar eksperimental, tetapi nyata sebagai solusi adaptasi terhadap perubahan iklim.

Keunggulan Teknologi Hunian Terapung

Berbeda dengan houseboat, rumah terapung Belanda tetap terkoneksi ke listrik dan sistem pembuangan kota. Struktur rumah di atas beton dan tiang baja memungkinkan bangunan tetap stabil saat air naik atau turun. Banyak rumah prefabrikasi, menggunakan bahan timber, baja, dan kaca, dibangun offsite sebelum dipasang di kanal.

Stabil dan Ramah Lingkungan

Koen Olthuis, pendiri Waterstudio, menyebut bahwa teknologi sederhana ini justru menjadi keunggulan utama. Rumah bisa naik turun mengikuti air, stabil dengan shock-absorbing, dan bisa diadaptasi untuk perumahan, sekolah, hingga kantor. “Kami melihat air sebagai obat untuk kota, bukan musuh,” katanya.

Manfaat Sosial dan Lingkungan

Mengurangi Tekanan Lahan

Konsep hunian terapung membantu mengurangi tekanan lahan di kota padat penduduk dan memberikan keamanan dari banjir serta badai ekstrem.

Pembangunan Berkelanjutan

Hunian terapung mendorong pembangunan berkelanjutan, misalnya pemanfaatan panel surya dan atap hijau. Komunitas Schoonschip bahkan saling menjual surplus listrik antarwarga dan ke jaringan nasional.

Inspirasi Global

Konsep hunian terapung Belanda menginspirasi proyek di negara lain, termasuk Maldives Floating City yang akan menampung 20.000 orang. Di Rotterdam, floating farm dan Floating Pavilion menjadi bagian dari strategi adaptasi iklim kota. Pemerintah Belanda juga memperluas kebijakan Room for the River untuk mengakomodasi area banjir sementara, memperlihatkan bahwa air bisa menjadi peluang, bukan sekadar ancaman.

Bagikan
Artikel Terkait
Lifestyle

Bagaimana Cara Memberi Selamat Hari Raya Nyepi secara Kekinian? Rahasia di sini

finnews.id – Selamat Hari Suci Nyepi atau Tahun Baru Saka 1948 untuk...

Lifestyle

Bagaimana Persiapan Nyepi di Malang? Intip Sakral-nya di sini

finnews.id – Jelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, umat...

LifestyleNews

Kuliner Wajib di Solo, Nasi Liwet Yu Sani Tawarkan Rasa Legendaris dan Harga Terjangkau

finnews.id -Bagi para pemudik yang melintasi Surakarta atau Solo, ada satu kuliner...

Lifestyle

Ritual Hari Raya Nyepi, Penyelamat Kehidupan Lebih Terkendali dan Berarti

finnews.id – Amati geni memiliki berbagai konotasi. Secara simbolik berarti mematikan api...