Home Tekno Gangguan Microsoft Bikin Bank dan Ritel Lumpuh: Risiko Bisnis di Era Cloud Terpusat
Tekno

Gangguan Microsoft Bikin Bank dan Ritel Lumpuh: Risiko Bisnis di Era Cloud Terpusat

Bagikan
Gangguan Microsoft
Gangguan Microsoft, Image: DALL·E 3
Bagikan

finnews.id – Pada Kamis dini hari, ribuan pengguna di seluruh dunia mendapati situs populer mereka tidak bisa diakses. Gangguan Microsoft yang terjadi beberapa jam melumpuhkan layanan besar, termasuk NatWest, Asda, M&S, Starbucks, dan bahkan Minecraft. Gangguan ini mengingatkan dunia bisnis bahwa ketergantungan pada satu penyedia cloud bisa berakibat serius.

Dampak Langsung ke Perbankan dan Ritel

NatWest sempat mengalami situs down, meski layanan mobile banking, web chat, dan telepon tetap berjalan. Di sektor ritel Inggris, supermarket seperti Asda dan M&S juga terdampak. Sementara itu, di AS, pelanggan Starbucks dan Kroger menghadapi kesulitan mengakses situs resmi mereka. Dampak ini bukan sekadar ketidaknyamanan, tetapi potensi hilangnya transaksi dan penurunan kepercayaan pelanggan.

Which?, organisasi konsumen di Inggris, menekankan bahwa perusahaan berkewajiban memberi informasi dan kompensasi bagi konsumen terdampak. Lisa Webb, pakar hukum konsumen, menyarankan: “Simpan bukti pembayaran yang gagal atau tertunda, lalu hubungi perusahaan untuk meminta biaya dibebaskan.”

Penyebab Gangguan Microsoft

Microsoft menjelaskan bahwa gangguan ini terjadi akibat DNS issues dan perubahan konfigurasi internal yang tidak disengaja. Azure, platform cloud yang menopang banyak layanan ini, mencatat penurunan performa mulai pukul 16:00 GMT, dan sebagian besar situs kembali normal sekitar pukul 21:00 GMT. Gangguan Microsoft kali ini mirip dengan outage besar Amazon Web Services minggu lalu, menegaskan bahwa sistem cloud global sangat rentan terhadap satu kesalahan kecil di belakang layar.

Risiko Bisnis di Era Cloud Terpusat

Konsolidasi layanan cloud ke perusahaan besar seperti Microsoft, Amazon, dan Google membuat banyak aplikasi dan sistem bergantung pada sedikit penyedia. Dr Saqib Kakvi dari Royal Holloway University menekankan: “Ekonomi hosting membuat sumber daya terkonsentrasi, tetapi ini menempatkan semua telur di satu keranjang.”

Perusahaan yang terlalu bergantung pada satu penyedia cloud berisiko kehilangan pendapatan, merusak reputasi, dan menghadapi tuntutan konsumen. Bahkan bisnis pemerintahan tidak luput, seperti Scottish Parliament yang menunda debat penting karena sistem voting online bermasalah akibat gangguan Microsoft.

Bagikan
Artikel Terkait
Tekno

Bocoran Harga Samsung Galaxy S26: Varian Dasar Makin Mahal, Versi Ultra Justru Turun?

finnews.id – Raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung, bersiap menggebrak pasar ponsel...

Tekno

Bocoran POCO X8 Pro: Rebranding Redmi Turbo 5 Max dengan Baterai Raksasa 9.000 mAh

finnews.id – Antusiasme pencinta gadget kembali memuncak setelah beredar kabar bahwa POCO...

Tekno

Bocoran Motorola Edge 70 Fusion: Bawa Baterai Raksasa 7.000mAh dan Layar Super Terang

finnews.id – Pasar ponsel kelas menengah atau mid-range kembali memanas seiring munculnya...

Tekno

Bocoran OPPO Find X9 Ultra: Desain Ikonik Kamera Retro dengan Sensor Gahar 200MP

finnews.id – Persaingan ponsel pintar kasta tertinggi atau flagship semakin memanas menjelang...