Home Sports Formasi 3-4-2-1 Ruben Amorim Masih Jadi Teka-teki di Manchester United
Sports

Formasi 3-4-2-1 Ruben Amorim Masih Jadi Teka-teki di Manchester United

Bagikan
Formasi Manchester United
Formasi Manchester United, Image: @manchesterunited / Instagram
Bagikan

Intensitas Premier League yang Menuntut Adaptasi Cepat

Liga Inggris menuntut kecepatan berpikir dan eksekusi yang tinggi. Di Liga Portugal, Amorim punya waktu membangun serangan dari belakang. Di Inggris, lawan seperti Liverpool dan Arsenal langsung menekan sejak awal. Dalam situasi seperti itu, para bek United sering kehilangan bola karena tidak punya opsi umpan yang jelas.

Formasi 3-4-2-1 memerlukan penguasaan bola di atas 55 persen agar efektif. Jika gagal mengontrol tempo, sistem ini justru melemahkan struktur tim. Dalam beberapa pertandingan, United terlihat kehilangan arah ketika bola direbut lawan. Transisi bertahan mereka terlalu lambat, dan jarak antarlini melebar.

Amorim sebenarnya paham situasi ini. Ia sering terlihat di pinggir lapangan memberi instruksi keras agar pemain tetap rapat dan menutup ruang. Namun pergerakan cepat lawan di Premier League sering membuat formasi Manchester United mudah terpecah.

Mentalitas dan Kepercayaan Diri Pemain

Selain masalah taktik, aspek mental juga memainkan peran besar. Setiap hasil imbang atau kekalahan langsung memicu tekanan besar dari publik dan media Inggris. Amorim mencoba meredam tekanan itu dengan tetap tenang dan rasional. Namun sebagian pemain justru menafsirkan ketenangannya sebagai kurangnya ketegasan.

Di Sporting, Amorim membangun kedekatan personal dengan pemain muda. Di United, hubungan seperti itu belum terbangun sepenuhnya. Ruang ganti yang diisi banyak bintang membuat pendekatan komunikasi menjadi lebih rumit. Jika kepercayaan terhadap pelatih menurun, motivasi di lapangan juga ikut berpengaruh. Itulah mengapa beberapa laga United terlihat tanpa arah dan kehilangan semangat kolektif.

Statistik yang Menggambarkan Ketimpangan

Data dari BBC Sport menunjukkan penguasaan bola United meningkat menjadi 54 persen, tetapi produktivitas justru menurun. Mereka hanya mencetak rata-rata 1,3 gol per pertandingan, turun dibandingkan musim sebelumnya. Tingginya penguasaan bola tidak diikuti efektivitas penyelesaian akhir.

Kesalahan individu di pertahanan juga meningkat. Amorim membutuhkan bek yang bisa mendistribusikan bola dengan cepat. Maguire dan Martínez belum tampil sesuai ekspektasi, sedangkan Jonny Evans kesulitan bermain dalam garis pertahanan tinggi. Tanpa fondasi pertahanan yang solid, sistem berbasis penguasaan bola tidak akan berjalan baik.

Bagikan
Artikel Terkait
Big match Persib vs Persija siap digelar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api.
Sports

Jadwal & Preview Derbi Indonesia: Persib vs Persija, Laga Penentu Juara Paruh Musim

“Kami menjalani pekan yang sangat baik dan produktif. Para pemain tahu betapa...

Sports

Kata Darren Fletcher soal Jadi Manajer MU: Gak Kepikiran

finnews.id – Darren Fletcher mengatakan bahwa dia tidak mengejar posisi manajer di Manchester...

Sports

Marc Marquez Kembali Ngaspal setelah Pemulihan Cedera Bahu

Marc Marquez back on asphalt after MotoGP injury layoff – Crash.net

Sports

Update Top Skor Piala Afrika 2025: Gelandang Serang Madrid Jadi Pemuncak

Referensi AFCON 2025: Golden Boot Race Heats Up As Knockout Stage Begins...