Catatan Dahlan Iskan

Mendadak Syria

Bagikan
Mendadak Syria
Bagikan

Saya pernah ajak mereka ke Amerika. Senang. Bersemangat. Berjingkrak. Tapi kali ini saya ajak mereka ke negara yang kesan umumnya masih mengerikan.

“Kami kan tidak punya visa?” kata Janet akhirnya. Lalu dia menengok ke arah suami.

“Saya sudah tanya Gus Najih. Kalian tidak perlu visa. Bisa urus visa on arrival di bandara Damaskus,” jawab saya.

Gus Najih adalah alumnus Suriah. Najih Arromadoni. Empat tahun kuliah di Syria. Hampir lulus. Gara-gara meletus perang ia pulang. Ambil ijazah di UIN Sunan Ampel, Surabaya. Kini Gus Najih, asal Brebes, sudah doktor –dosen di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Belakangan ia mondar-mandir ke Damaskus. Ia sekretaris alumni Timur Tengah.

Mendengar ajakan saya, Janet lantas sibuk dengan HP-nya. Saya sibuk ngobrol bisnis dengan suami.

“Anda sebagai orang Indonesia memang bisa urus VOA di Damaskus. Kami sebagai orang Tiongkok harus punya visa,” ujarnyi sambil menunjuk ke layar HP.

Saya jadi ragu dengan informasi yang saya terima. Saya pun hubungi Gus Najih. Ingin kepastian. Gus Najih hubungi kedutaan Indonesia di Damaskus. Cepat sekali dapat jawaban: orang Tiongkok pun bisa urus visa di bandara Damaskus.

Untuk meyakinkan saya Gus Najih sampai mengirimkan teks panjang. Isinya soal ketentuan baru visa. Dalam huruf dan bahasa Arab.

“Janet, ini Gus Najih sudah jawab. Anda tidak perlu bawa visa,” kata saya. “Nih, baca sendiri peraturan barunya,” kata saya sambil menyodorkan teks berhuruf Arab itu.

“Hahaha… Bagaimana saya bisa baca ini,” katanyi terpingkal. “Ok, saya percaya saja,” katanyi.

Saya tahu banyak penerbangan dari Hong Kong arah Doha. Kami pun pilih Qatar Airways. Masih ada waktu sembilan jam lagi. Gus Najih saya minta berangkat dari Jakarta. Bertemu di Doha. Ia agak kesulitan cari tiket mendadak. Tapi dapat. Dua kali lipat lebih mahal daripada harga pulangnya.

Kami mendarat lebih dulu di Doha. Punya waktu empat jam menunggu penerbangan ke Damaskus. Saya lihat layar lebar berisi jadwal penerbangan: yang ke Damaskus belum ditentukan akan lewat gate berapa.

Bagikan
Artikel Terkait
PT DSI itulah yang akan ekspor sawit dan batu bara. Eksporter tunggal. Semua perusahaan sawit dan batu bara harus serahkan ekspornya.
Catatan Dahlan Iskan

Klarifikasi Bukan

Entahlah mana yang paling benar. Baiknya kita sabar menunggu perkembangan sampai dua...

Catatan Dahlan Iskan

Dor! Dor!

Presiden Soeharto mengubah asas ekonomi menjadi tanpa nama. Tapi Anda tahu: praktik...

Catatan Dahlan Iskan

Rujak Ambon

  Tiba di kantor Cantika kami bisa pilih kursi. Ada tiga pilihan:...

Catatan Dahlan Iskan

Kenari Tua

  “Sejuta umat” yang terbukti laris hanya di mobil Avanza. Itulah merek...