finnews.id – Mantan sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu menduga akan ada upaya gulingkan Prabowo Subianto dari kuris Presiden setelah tiga menteri ‘titipan’ bertemu Jokowi di Solo saat lebaran kemarin.
Tiga Menteri tersebut yakni Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan yang menyambangi kediaman pribadi Jokowi di Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Senin 31 Maret 2025.
Kemudian besoknya, tepat di hari raya Idul Fitri, Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi bertemu Jokowi. Disusul Menko PMK Pratikno.
Menurut Said Didu, yang menarik dari pertemuan itu, tiba-tiba Luhut mengatakan bahwa Jokowi tidak pernah melanggar konsitusi selama 10 tahun jadi Presiden.
“Yang menarik, LBP tiba-tiba bikin pernyataan bahwa Jokowi tidak pernah melanggar hukum dan konstitusi.
Apakah pernyataan ini bermakna pesan bhw :
1) jangan ada tuntutan adili Jokowi
2) jangan persoalkan Wapres Gibran dan
3) jika terjadi sesuatu maka Gibran memenuhi syarat gantikan Prabowo” tulis Said Didu di akun X pribadinya, Selasa 2 April 2025
Said Didu menduga, akan ada gebrakan baru dari ‘trio’ titipan Jokowi itu untuk framing desakan adili Jokowi dan keluarganya, menjadi desakan turunkan Prabowo.
“Kita tunggu gebrakan apa yg akan dilakukan oleh TRIO bbrp hari ke depan, termasuk demo yang framing revisi UU TNI menjadi tuntutan ‘turunkan Prabowo dan masukkan TNI ke Barak,’ MENGGANTIKAN tuntutan rakyat. Adili Jokowi dan Lawan Oligarki” tulis Said Didu.
Sebelumnya, Luhut Binsar Pandjaitan mengaku menjadi saksi hidup bahwa Presiden ke-7 Jokowi tak pernah melanggar konstitusi. Kendati demikian ia tak menyebutkan secara rinci pelanggaran konstitusi tersebut.
“Saya kan pembantu Presiden Jokowi selama 10 tahun, saya saksi hidup. Ya saya ulangi sekali lagi, saya saksi hidup,” kata Luhut Senin lalu.
“Dan sebagai tentara, saya tidak melihat ada pelanggaran-pelanggaran secara konstitusi yang dilakukan Presiden Joko Widodo waktu itu. Tidak saya lihat. Jadi siapapun yang bisa anu saya bisa saksi hidup,” katanya menambahkan.
Luhut juga berpesan untuk semua orang agar memelihara budaya sopan santun.
“Tapi saya hanya titip satu di bulan Ramadhan ini yang selesai hari ini. Kita semua supaya memelihara budaya santunnya, ramah-tamahnya Indonesia,” katanya.
Luhut berpendapat bahwa demokrasi sudah betul. Namun, ia menekankan jangan sampai hal tersebut membuat orang-orang tak menghormati sosok-sosok yang telah berkarya untuk Indonesia.
“Demokrasi itu betul, tapi jangan demokrasi itu jadi merusak budaya sopan santun kita. Berbicara, berbahasa, dan tidak menghormati orang-orang yang sudah berkarya buat negeri ini.Kemudian berburuk sangka dengan cepat,” katanya. **